In

Adventure in Melbourne: An Epic Journey


Melbourne, Victoria, Australia
Source: Google
Hai! terima kasih karena masih mau membaca blog-ku ini.

Kali ini, saya libur dulu buat me-review produk, ah! hehehehe....

Sebagai gantinya, saya mau cerita mengenai pengalaman pertama saya belajar di luar negeri. Bagaimana serunya, apa saja yang paling membekas, dan lain lain. tapiiiiiii....... cerita yang saya sampaikan ini mungkin akan lebih condong ke sisi keseruan selama menjalani aktifitas, kali, ya. Ini sudah cerita lama, sebetulnya. Tapi karena kepanjangan, akhirnya baru terunggah sekarang, hehehe.

Oke lah, enjoy! semoga terhibur~

Masih segar rasanya dalam ingatan, perasaan bangga sekaligus tidak percaya saat kulihat namaku dalam daftar penerima beasiswa Kemenag. Aku sedang duduk di baris depan saat teman sekelasku, Devia Fitaloka menghampiriku dengan wajah yang berseri-seri. Tampak antusias ia menjelaskan bahwa kami berdua masuk kedalam daftar nominator penerima beasiswa untuk tahun 2016. Setelah melalui proses seleksi yang panjang, semua perasaan harap-harap cemas yang selama ini menghantui lenyaplah sudah. Setelah melalui beberapa kali konfirmasi via telepon, akhirnya aku dan Devia diyakinkan bahwa kami benar-benar lolos untuk program Student Mobility Program tahun 2016.

Perjalanan menuju keberangkatan kami tidaklah mudah, hampir satu tahun kami menunggu kepastian mengenai tanggal keberangkatan. Setelah melewati dua kloter keberangkatan Student Mobility Program, akhirnya giliran yang kami tunggu tiba juga. Kebetulan kami mendapatkan kloter keberangkatan ketiga. Tujuan utama kami adalah Deakin University, Burwood Campus yang terletak di kota Melbourne, ibukota negara bagian Victoria, Australia. Tak mampu lagi aku mengucap kata saat kuterima pemberitahuan WhatsApp yang berisi tanggal dan tujuan kami berangkat. Sekali lagi, penantian panjang yang disertai perasaan harap-harap cemas lenyaplah sudah.

Jauh sebelum hari keberangkatan, aku dan teman-teman Student Mobility Program (selanjutnya disingkat SM-PRO) sudah dikumpulkan dan diperkenalkan secara daring lewat grup khusus di aplikasi WhatsApp. Di luar obrolan grup pun, kami sudah saling mencoba untuk berkomunikasi secara pribadi walaupun belum semua anggota grup kuajak bicara. Pada hari kami bertatap muka, kami sudah tidak saling canggung. Walaupun masih terdapat sedikit rasa malu, tapi aku meyakinkan diri untuk tetap percaya diri.

Sebagian peserta pertukaran pelajar, sambil menunggu pesawat tiba
Lokasi: Ruang tunggu keberangkatan internasional
Bandara Soekarno-Hatta
Sabtu, 29 Oktober 2016 menjadi salah satu dari sekian banyak hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Di pelataran Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta aku dipertemukan dengan rekan-rekan yang nantinya akan menjadi teman, sahabat, sekaligus keluarga di perantauan. Senang rasanya bisa berjabat tangan, saling melempar senyum, guyonan dan cerita secara langsung tanpa harus repot bersenam jari diatas papan ketik. Syukurlah, mereka semua sangat ramah dan mau menerima diriku apa adanya. Mereka semua jauh lebih ramah dari apa yang selama ini aku bayangkan. Satu pelajaran yang bisa aku petik, “jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu yang nampak di permukaan”.


Kiri-Kanan
Aku (Billy), Kak Olin, Bryan
Tepat pukul 17.20 pesawat yang kami tumpangi lepas landas, sedikit kecewa saat kulirik ‘boarding pass’ milikku dan tahu bahwa aku duduk berjauhan dengan rekan-rekan yang sudah cukup dekat denganku, tapi nampaknya sang Kuasa mempunyai rencana yang jauh lebih baik. Di kursi pesawat, aku berkenalan dengan rekan-rekan lainnya yang ternyata sangat ramah. Yang pertama, aku berkenalan dengan seorang mahasiswi asal Yogyakarta, Kharolin Hilda Amazona, yang selanjutnya akrab kupanggil mbak Olin. Beliau merupakan pribadi yang luar biasa, dengan pembawaan yang saaangggaaatt ramah. Di kursi seberang, duduk salah satu temanku yang berasal dari Surabaya, Brian Rizky Bimantara namanya. Kalau yang ini, kami sudah cukup sering mengirim pesan via WhatsApp, jadi tak lagi ada rasa canggung. Selama perjalanan, kami bercerita banyak mengenai apa yang kira-kira akan terjadi di Melbourne nanti. Tak jarang kami melempar gurauan dan tertawa lepas mencairkan suasana. Oh iya, yang duduk di sampingku sebenarnya ada satu orang lagi, Alvi Rahmi namanya. Beliau berasal dari Aceh, tapi sayangnya kami tidak sempat berswafoto di pesawat.

Sekitar pukul 19.00 WITA, kami mendarat di pemberhentian pertama kami, Bandara Changi di Singapura. Sedikit lelah memang terasa, tapi senda gurau yang tak kunjung berhenti membuat rasa lelah kami terlupakan. Tak lupa, kami abadikan beberapa momen berharga yang sayang untuk kami lewatkan begitu saja. Untuk sejenak, aku lupa bahwa kami baru bertatap muka selama beberapa jam. Rasanya seperti sudah mengenal mereka selama bertahun-tahun lamanya. Tak peduli akan rentang umur yang kami miliki, semua melebur begitu saja menjadi gelak tawa.

Bandara Changi, Singapura
lebih mirip mal, bukan?
Pesawat yang akan kami tumpangi menuju Melbourne mengalami sedikit kendala terkait jadwal, sehingga mengakibatkan penundaan selama hampir satu jam. Alih-alih menunggu waktu menuju keberangkatan selanjutnya, kami memanfaatkannya untuk berkeliling di area terminal 2 (psst, Nampaknya bandara di sini lebih menyerupai pusat perbelanjaan ketimbang sebagai sebuah bandara).

Sekitar pukul 21.50 WITA, aku dan rekan-rekan lainnya pun melanjutkan perjalanan menuju kota tujuan kami, Melbourne. 7 jam lamanya aku harus duduk di kursi pesawat, tetapi rasa lelah yang menggelayut membuat kantuk cepat menyerang. Alhasil, dua per tiga waktu perjalanan kuhabiskan dengan tertidur.

Melbourne dari jendela pesawat
Kilometer demi kilometer kian terpangkas beriringan dengan turunnya ketinggian pesawat yang kami tumpangi. Dari jendela, nampak hamparan hijau rumput terbentang bak permadani diatas tanah. Ini menandakan bahwa kami telah tiba di kota tujuan kami. Senang dan tidak percaya rasanya bahwa akhirnya aku bisa benar-benar menginjakkan kaki disini.

Selepas mengurus bagasi dan persyaratan lainnya, tiba saatnya aku benar benar menginjakkan kaki diatas tanah bumi kangguru ini. Kesan pertama bagiku di sini ialah BERANGIN. Ya! Berangin. Bukan angin sepoi sepoi, bukan pula angin topan, melainkan hembusan angin dingin yang cukup kuat untuk merebut sebuah kertas dari genggaman.



Di depan kami berdiri seorang pemuda, perawakannya tegap, dan berwajah oriental. Aoran namanya. Dengan ramah ia memperkenalkan dirinya. sesuai petunjuk dari ibu Efin via WhatsApp, beliau merupakan orang yang bertugas mengantarkan kami ke asrama tempat kami tinggal.

Sepanjang perjalanan menuju asrama, mataku disuguhkan dengan pemandangan yang selama ini hanya kulihat melalui dunia maya. Hamparan rumput hijau yang saling berbisik, pohon-pohon yang tersenyum, bunga bunga yang melambai, juga burung-burung yang bersenandung seolah menyambut kehadiranku. Tak hentinya aku berdecak kagum dengan keindahan kota Melbourne. Sambil menikmati perjalanan, aku melamun.

HAYS International College (1)
Tempat menginap
Lamunanku terhenti saat bus yang kutumpangi berbelok menuju jalan Hay. Tandanya, asrama yang kutuju sudah dekat. Sesampainya di asrama, kami dipecah dan dibagi kamar masing-masing. Saat itu, rekan sekamarku adalah Bryan. Kami mendapatkan kamar nomor 46. Lokasi dari kamarku sendiri cukup strategis, dekat sekali dengan kamar mandi dan pintu keluar.



HAYS International College (2)
Kartu Myki





Selepas beristirahat dan mengganti baju, pak Mizan, pembimbing kami, membagikan kartu Myki untuk kami gunakan selama kami berada di Melbourne. Myki sendiri adalah kartu yang wajib digunakan untuk menggunakan moda transportasi umum berupa bus kota, tram, dan kereta Metro. Tanpa “kartu ajaib” tersebut, kami tidak akan bisa menggunakan transportasi apapun. Oh ya, kebetulan kartu yang kami gunakan adalah kartu khusus turis yang sudah diisi sebesar AUD39.00 (dengan pajak, AUD45.00), paket unlimited 7 hari yang berarti selama 7 hari kedepan kami bebas pergi kemanapun tanpa harus mengisi ulang saldo kartunya.

Usil hari pertama
Dalam gambar: Hendro
Sebagai mahasiswa dengan jiwa ‘usil’, aku tidak mau diam saja begitu menerima “kartu ajaib” tersebut. Dengan ditemani Bryan, Hendro, dan Abdul Gani, kami mencoba mencari tahu jalur yang tepat menuju Deakin University, tempat dimana kami akan belajar keesokan harinya. Dengan slogan ‘modal nekat’ kami pun bergegas menyusuri jalan menuju tempat pemberhentian bus. Sepanjang jalan Canterbury, kami menemukan beberapa  pemberhentian bus. Dengan berbekal instruksi dari Prof. Ismet Fanany dan Prof. Rebecca Fanany, kami mencari pemberhentian bus menuju Deakin University. Saat itu kami sudah berjalan cukup jauh saat kami melihat sebuah bus akan berbelok ke arah kiri. Kami berasumsi bahwa bus itulah yang akan kami tumpangi. Sekitar 5 menit menumpang bus, kami mulai gelisah. Kampus yang kami tuju belum juga terlihat. Takut tersesat terlalu jauh, kami pun memutuskan untuk berhenti di jalan besar terdekat.



Setelah turun dari bus, kebingungan masih belum berakhir. Hendro, yang saat itu hendak membeli sesuatu mencetuskan ide untuk mencari K-Mart, sejenis supermarket besar dimana segala kebutuhan sehari-hari tersedia dengan harga yang miring. Atas penjelasan Prof. Rebecca sebelumnya, K-Mart berlokasi tidak jauh dari Deakin University, hanya berjarak 3 stasiun tram. Hanya saja, saat itu kami belum mampu menentukan posisi kami berdiri menghadap arah angin yang mana, sehingga kami kebingungan untuk mengambil arah kiri atau kanan. Dengan bermodal insting, kami berjalan menuju arah kanan (yang sebenarnya menjauhi Deakin maupun K-Mart!). 15 menit berjalan, kami mulai putus asa. Bangunan yang dimaksud belum juga terlihat di ujung mata. Kami berasumsi bahwa kami tersesat. Kami pun memutuskan untuk kembali ke asrama, dengan berjalan kaki sejauh ± 2 mil.

Merasa tidak kapok, sore harinya kami kembali menjajal jalanan Box Hill, namun kali ini bersama-sama dengan rekan-rekan dan pembimbing. Alasan kami semua pergi adalah “supaya besok tidak kaget dengan rute”. Saat menaiki bus (yang kali ini aku yakin tidak akan salah) barulah aku tahu bahwa tadi siang aku dan teman-temanku mengambil jalan (saat berjalan kaki) menjauhi Kampus, dan seharusnya kami tidak turun dari bus, karena bus yang kami tumpangi sudah tepat. Rasanya menyesal karena terlalu terburu-buru turun dari bus.


Gedung ikonik Deakin University
**Narsis mode: ON**
Deakin University dari sudut berbeda
Sesampainya di Universitas Deakin, mataku kembali terbelalak. Gedung kampus yang dimaksud sangat megah, luas dan modern. Jauh lebih indah dari bayanganku. Kami sempatkan mengambil beberapa foto untuk kami abadikan. Setelah 15 menit, aku, Bryan, Hendro (namanya cuma Hendro, aseliiiiii) dan Lusiana Dwi Ariani (Ana) pamit untuk memisahkan diri. Alasan yang sama dengan tadi siang, kami ingin membeli beberapa barang di K-Mart. Memilih moda transportasi tram, kami berasumsi bahwa kami tidak akan salah karena tram hanya memiliki satu rel, tidak akan belok tanpa diprediksi (trauma dengan bus).

Satu, dua stasiun tram kami lewati. Saat di jendela sebelah kanan kulihat tulisan “Shopping Centre” terpampang di tembok sebuah bangunan. Kuasumsikan shopping centre tersebut sebagai K-Mart. Kami pun turun di stasiun tram terdekat. Masih terekam jelas dalam otak bahwa aku membaca plang ‘Blackburn Road’ di seberang jalan. Firasatku berkata kalau ini bukanlah K-Mart yang dimaksud. Kami berjalan mendekati Shopping centre tersebut. Benar saja, tidak terdapat tulisan K-Mart di sisi manapun dari pusat pertokoan tersebut.


Pasca tidak berhasil menemukan K-Mart
lokasi: Halte Tram 70, Blackburn Rd.
Perdebatan sengit mengenai K-Mart tidak berhenti disitu. Kami berdebat. Ada yang mau melanjutkan naik tram ke arah tempat kami turun, ada yang ingin pergi ke arah sebaliknya. Setelah berulang kali membaca peta, kami memutuskan untuk pergi ke Flinders Station di pusat kota. Kami kembali mengambil tram tapi ke arah sebaliknya.



Dengan tawa kecil kami melanjutkan perjalanan. Kala itu tram tidak terlalu penuh. Di stasiun Camberwell, kereta berbelok dan berhenti. Kami kebingungan karena saat itu tram tidak ada penumpang. Dalam keadaan bingung kami berempat memutuskan untuk turun. Dalam derap langkah pertama kami, angin berhembus sangat kencang. Udara berubah menjadi dua kali lebih dingin dari udara di dalam tram. Sempat kulirik handphone ku dan melihat angka 7 di layar handphone ku. YA! 7 derajat celsius! Suhu yang amat dingin bagiku, seorang warga yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Temanku Hendro ternyata mengenakan pakaian yang cukup tipis, sehingga udara Camberwell cukup merepotkan baginya.


Sambil menggigil kedinginan, mencari arah pulang
Lokasi: Sekitaran Camberwell
Di tengah kebingungan kami termenung. Sembari “menikmati” udara yang amat dingin, kami mencari stasiun tram terdekat. Kami berusaha untuk pulang. Kedatangan tram yang saat itu dijadwalkan pukul 21.40 terasa sangat lama bagi kami. Bagaimana tidak? Kami harus menunggu di pinggir jalan, di tengah kota Melbourne sekitar pukul 21.20 dengan kondisi belum terbiasa akan udara dingin yang menerpa. Sesekali kulirik para pejalan kaki yang lewat menggunakan pakaian serba tipis dan berpikir apakah mereka tidak merasakan dinginnya malam itu. Sampai kesunyian terpecah kala temanku Ana mengucap janji akan memasakkan kami bertiga mi instan apabila tram lekas datang. Kami bertiga tak bisa berkata apa-apa selain mengamini kalimat yang baru saja Ana lontarkan.

Tak berapa lama (walaupun saat itu waktu terasa sangat pelan bagi kami berempat) kemudian tram datang, kami menyambutnya bak menemui artis papan atas. Segera kami ‘touch on’ kartu Myki masing-masing dan duduk tanpa ekspresi.

Pizza time! pasca kedinginan
Lokasi: Domino's Pizza Burwood

Merasa lapar, kami berempat turun di stasiun tepat di depan Universitas Deakin. Kami berjalan ke arah Domino’s Pizza dan memesan sebuah pizza untuk nantinya kami makan di asrama.





Setelah membayar dan mengambil pesanan, segera kami langkahkan kaki menuju stasiun bus. Kutengok jam di layar handphone dan menunjukkan pukul 22.05. Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah kami berempat. Bagaimana tidak? Sudah tidak ada lagi jadwal bus yang tersedia, itu berarti kami harus jalan kaki menuju asrama. Dengan energi yang tersisa, kami berjalan sejauh ± 6 mil menuju asrama.

Setiba di asrama, rasa cemas menghampiri. Kami takut jika salah satu dari pembimbing kami akan memarahi kami karena pulang paling akhir. Syukurlah, yang kami takutkan tidak terjadi. Bagai seorang anak membujuk ayahnya, kami berempat setuju untuk membagi pizza kami dengan para pembimbing (akal-akalan kami saja, sih, supaya tidak kena semprot).

Merasa masih lapar, kami bergegas ke dapur untuk memasak mi instan. Sesuai janjinya, Ana yang memasakkan mi instan untuk kami bertiga. Tak disangka, banyak rekan (yang tidak ikut tersesat) sudah berada di dapur. Mereka menghujani kami dengan pertanyaan ‘dari mana saja kalian?’, ‘kok pada misah?’, dan ‘nyasar ya?’. Tak ada satu katapun keluar dari mulut kami selain menebar senyum bak ‘kuda nyengir’.

Di ruang kelas, mendengarkan kuliah
Prof. Ismet Fanany, asal Indonesia yang menjadi WN Australia
Hari kedua, kami semua memulai kegiatan perkuliahan perdana di kampus. Tak ada lagi acara ‘tersesat’, kami dengan antusias mendengarkan narasumber menyampaikan materi materi yang kuyakini sangat bermanfaat bagi kemajuan diri sendiri maupun orang banyak.




Hari ketiga, aku dan rekan-rekan semua ditemani oleh Prof. Ismet Fanany dan Prof. Rebecca Fanany pergi mengunjungi Healesville Sanctuary, semacam tempat konservasi binatang dengan konsep yang sangat bersahabat bahkan untuk balita sekalipun.

Sebelum masuk Healesville Sanctuary
Kejadian konyol yang kuyakini tak akan pernah kulupakan kembali terjadi disini. Kejadiannya terjadi di kandang dingo, sejenis hewan mirip anjing namun lebih liar dan ganas. Sebelumnya, pembimbing kami membebaskan kami untuk berkeliling. Kembali aku bergabung dengan Bryan, Hendro, dan Ana menyusuri kebun binatang. Tepat di depan kandang dingo, Ana mendekat dengan antusias dan menyodorkan kamera ke arah hewan berwarna putih di depannya. Sambil terus bergumam, Ana mengambil potret hewan yang sedang asyik tertidur itu. Sempat ia menyebut keidentikan hewan tersebut dengan anjing. Di tengah ‘kekhusyukan’ mengagumi hewan cantik tersebut, seorang berkulit putih (aku berasumsi ia warga asli Australia) menepuk pundaknya dan mengatakan bahwa yang sedang ia foto adalah benar-benar anjing! Sementara dingo yang dimaksud berada di kandang sebelahnya. Dengan wajah memerah Ana berterima kasih dan segera mengajak kami menjauh dari kandang dingo, mungkin ia merasa malu dengan kejadian yang baru dialaminya
.
menikmati es krim di tengah hijaunya Yarra Valley
Lokasi: Yarra Valley Chocolatier
Sepulang dari Healesville, tidak lantas kami pulang ke asrama. Di jalan pulang, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Yarra Valley Chocolatier, sebuah pabrik cokelat di utara Melbourne. Sesuai dengan namanya, Yarra Valley Chocolatier terletak di tengah tengah perbukitan. Yang cukup mengagetkan, udara di Yarra Valley tidak sedingin di pusat kota Melbourne. Aku menikmati potongan coklat gratis dan berkesempatan mengintip proses pembuatan cokelat khas perbukitan Yarra. Tak lupa aku menyempatkan membeli es krim lembut yang melengkapi indahnya pemandangan perbukitan.


On frame:
Hendro, Ana, Hafsah, Bryan, aku

Nyempil:
Devia
Masih belum kapok dengan perjalanan hari-hari sebelumnya, aku dan rekan-rekan kembali menjajal ‘ganasnya’ kota Melbourne dengan tujuan yang sempat tertunda, Flinders Station. Kali ini tidak hanya berempat, namun Devia dan Hafsah Khairunnisa memutuskan untuk bergabung. Kembali tawa terpecah kala mengetahui seharusnya kami tidak turun di stasiun Camberwell, karena tram yang kami tumpangi sudah tepat dan akan terus berlanjut ke tujuan utama kami. Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, bagaimanapun juga kami tidak akan turun dari tram sebelum melihat tujuan kami. Kami pun mengambil pamflet yang berisi rute tram beserta jadwal kedatangannya, berjaga-jaga jika kami masih mau berjalan-jalan menggunakan tram.

Narsis (lagi) di halte Flinders
Benar saja, dari kejauhan bangunan pencakar langit mulai menampakkan wujudnya. Itu berarti pusat kota sudah di depan mata. Kami turun tepat di depan stasiun Flinders. Dengan mata menyala-nyala, kami berenam tak henti henti berdecak kagum dengan kondisi jalan di depan kami. Kota yang modern, canggih namun tetap asri seolah menyihir kami sehingga kami tak mampu lagi berkata-kata. Dengan sigap satu persatu dari kami mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen. Raut wajah bahagia tak bisa lagi kami sembunyikan.

Akhirnya, K-Mart!
Lokasi: Lorong Makeup K-Mart Burwood
Kembali dari Flinders Street, tak lantas kami pulang ke asrama. Masih ada satu rasa penasaran lagi yang belum kami tuntaskan, K-Mart! Oleh karena itu, kami tidak lantas turun di stasiun depan Universitas Deakin, kami melanjutkan perjalanan ke stasiun-stasiun selanjutnya hingga tiba tepat di depan K-Mart. Hore! Kami tidak lagi tersesat!




kelamaan nunggu Devia, Foto aja dulu...
Lokasi: 7-Eleven Blackburn
(maafin mukanya plis)
Sepulang dari K-Mart, kami memutuskan untuk turun di stasiun Blackburn. Ya! Stasiun tempat kami turun saat pertama kali naik tram. Rupanya akan lebih dekat mencapai asrama menggunakan jalan Blackburn. Tak lagi kami temui bus lewat, tapi sudah kami prediksi sebab kami pulang diatas jam 22.00. di tengah jalan, kami menemui minimarket 7-Eleven dan memutuskan untuk membeli Slurpees, sejenis minuman bersoda dengan banyak pilihan rasa yang menyegarkan (dan murah, hanya AUD 1). Kami berkeliling dan Devia memutuskan untuk mencoba membeli kartu operator lokal Australia, agar ia tak lagi mengandalkan jaringan nirkabel gratis yang agak sulit ditemukan. Sayang seribu sayang, prosedurnya tidak memungkinkan untuk langsung mengaktivasi kartu di tempat. Devia memutuskan untuk tidak jadi membeli kartu operator seluler tersebut.


kira kira begini kronologisnya
Kecerobohan kembali terjadi kala tidak satupun dari kami bisa menentukan arah angin tempat kami berdiri. Kami pun lupa dari arah mana kami datang. Kami berenam pergi ke arah kanan 7-eleven. Jauh berjalan, tak juga kami temukan plang bertuliskan ‘Hay Street’. Yang kami temukan malah sebuah gerai McDonald’s. Aku tidak ingat melewati McDonald’s dalam perjalanan menuju asrama. Kami memutuskan untuk kembali ke dalam 7-eleven dan bertanya pada kasir yang beretnis india itu lalu ia menunjukkan arahnya. Singkat cerita, kami mampu mencapai asrama walaupun kala itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Keesokan harinya, kami kembali menjalani kegiatan perkuliahan. Dengan narasumber dan topik yang berbeda, kembali aku menjadi sangat antusias dalam menyimak materi demi materi yang disampaikan. Hari ini kuputuskan untuk tidak pergi kemana-mana, karena badanku terasa sangat lemas.
Sehari setelahnya, badanku mulai terasa lebih bugar. Rupanya obat yang kuminum bekerja lebih cepat. Hari ini dijadwalkan untuk mengunjungi pusat kota, tempat yang sebenarnya sudah tidak asing karena sebelumnya aku sudah menjelajahi sebagiannya.

Turun dari tram, aku merasa tidak ingin beranjak dulu, entah kenapa. Rupanya rekanku Yuli dan Sabar masih berdiam di halte sementara yang lain sudah pergi menjauhi stasiun menuju Queen Victoria Market. Sempat kutanyakan kenapa Sabar tidak bergabung, rupanya ia sedang menunggu kakak kelasnya yang berkesempatan kuliah di Universitas Monash. Beruntungnya aku bisa turut berkenalan dengannya. Ana namanya. Oh, bukan! Bukan Ana ‘dingo’! Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Australia. Mbak ana ini dulunya satu almamater dengan Sabar, beliau mengambil studi TESOL (Teaching English for Speakers of Other Language), masih nyambung dengan jurusanku, Pendidikan Bahasa Inggris. Sekilas tentang mbak Ana, beliau ini merupakan pribadi yang sungguh menyenangkan, baru saja kenal tapi sudah bisa akrab. Beliau juga sangat ramah pada siapapun, padahal selama di Melbourne kemarin aku cukup merepotkan (banyak request, mau kesini kesitu, hihi). Bercerita banyak dengan mbak Ana, aku banyak belajar. Jadi semakin kagum dengan sosoknya yang bersahaja. Ah, kalau mbaknya membaca ini, semoga dalam keadaan sehat selalu ya, mbak! hihi... Sungguh banyak pelajaran yang bisa kupetik dari mbak Ana.


Kiri-Kanan:
Yuli, Mbak Ana, Sabar, Aku

Lokasi:
Halte Tram Queen Victoria Market
Perjalanan kami mulai berempat, aku, Sabar, Yuli, dan Mbak Ana. Kami terpisah cukup jauh dari rombongan sehingga kami memutuskan untuk pergi berempat saja, toh mbak Ana sudah hafal daerah pusat kota. Tujuan pertama kami adalah mencari titik foto yang unik. Sebagai seorang dengan tingkat ‘narsis’ yang tinggi aku tidak ingin melewatkan setitikpun tempat foto yang kurasa bagus untuk kumasukkan kedalam album virtual di akun instagram milikku.





Pasar tradisional, tapi rapi!
Lokasi: Queen Victoria Market
Puas berfoto, kami berempat melanjutkan perjalanan ke Queen Victoria Market, pasar tradisional yang menjual berbagai macam sayur, daging, buah, dan souvenir khas Australia. Tempat ini menjadi primadona bagi para turis domestik maupun mancanegara yang ingin membawa buah tangan khas negeri kangguru, tentunya dengan harga yang lebih murah dibandingkan toko souvenir di pusat kota.
Puas berbelanja, tak lantas kami pulang ke asrama begitu saja. Kami berempat memutuskan untuk menjajal tempat lainnya di pusat kota. Kali ini Alfiatu Rahmah dan Ana ‘dingo’ memutuskan untuk bergabung. Kami berenam mengunjungi Victoria State Library, perpustakaan negara bagian dengan bangunannya yang khas dan ikonik. Tujuanku hanya satu, ingin mengunjungi ‘great dome’ di tengah tengah perpustakaan. Sempat kubaca melalui beberapa situs, konon katanya titik tersebut menjadi sesuatu yang ‘must-try’ alias wajib hukumnya untuk dicoba.


‘The Great Dome’ terletak di lantai 4 perpustakaan. Satu-satunya akses menuju dome adalah menggunakan elevator. Kekonyolan kembali terjadi disini. Pertama-tama, kami tak mencurigai apapun. Aku, Sabar, Yuli, Alfiatu, dan Ana memasuki elevator, mbak Ana tidak ikut bersama kami karena ia harus mengisi ulang telepon pintarnya. Dengan percaya diri kutekan angka 4 di dalam elevator, pintu elevator pun menutup. Tak kurasakan elevator tersebut bergerak. Kuputuskan untuk menekan kembali angka 4, namun pintu elevator malah terbuka. Kami pun keluar dengan menunjukkan wajah kasual, tidak ingin terlihat udik. Dengan berbisik kami bertanya-tanya, kenapa elevator tak kunjung bergerak. Sebagai manipulasi, kami berpura pura berkeliling di area perpustakaan lainnya. Setelah dirasa aman, kami kembali mencoba menaiki elevator namun kali ini Sabar yang menekan tombolnya. Nihil, kembali elevator tak bergerak. Kami kembali bersikap kasual, seolah-olah tak ada yang terjadi. Kami berlima memutuskan untuk kembali ke tempat mbak Ana mengisi ulang daya teleponnya. Kami menceritakan pengalaman kami dengan terheran-heran. Mbak Ana pun tidak mengerti kenapa elevator tak mau bergerak. Asyik bercerita, mataku terfokus pada videotron yang menempel di salah satu pilar perpustakaan. Tertulis dengan jelas, “dome opens mon-fri, 8 AM-4 PM” lalu kulirik layar handphone dan tertulis dengan SANGAT JELAS, 16.27. rupanya dome yang hendak kami kunjungi sudah tutup! Konyol rasanya mengingat beberapa kali kami menekan tombol elevator yang ternyata sudah tidak beroperasi karena sudah diluar jam operasional. Dengan tertawa terbahak-bahak kami berenam keluar dari gedung. Nampak penjaga menatap kami dengan wajah heran, mungkin menduga-duga apa yang terjadi pada keenam warga asing di hadapannya.

sambil menunggu Metro tiba
in frame: Yuli Ningsih 
Puas menertawakan diri sendiri, kami bergegas ke Flinders Station. Kami berencana untuk pulang dengan menumpang Metro, sebuah kereta api. Senang rasanya, karena akhirnya aku berkesempatan menumpangi semua moda transportasi yang tersedia di Melbourne, bus sudah, tram sudah, sekarang kereta api. Masih menggunakan “kartu ajaib” Myki kami menumpangi kereta jurusan Lilydale dan turun di stasiun Box Hill.


menikmati 'hangatnya' kota Melbourne
Lokasi: Depan Victoria State Library

Kerudung merah: Binna
Jumat, 4 November 2016 menjadi hari terakhirku di kota Melbourne. Kami menjalani perkuliahan hari terakhir dengan emosional. Tidak sedetikpun mau kulewatkan momen langka ini. Usai perkuliahan, aku, Binna, dan Ana pamit untuk menjajal pusat kota Melbourne untuk terakhir kalinya sebelum esok terbang ke Indonesia. Kami kembali ke Queen Victoria Market untuk membeli buah tangan yang ‘terlupakan’. Tak sedetikpun kami berkedip, tak mau melewatkan nikmatnya udara Melbourne. Puas berjalan-jalan, kami bertiga mencoba beberapa kuliner jalanan. Kami kembali pulang menumpang Metro. Tidak ada acara pulang tengah malam, karena pukul 19.00 acara farewell party akan dimulai.



Secuil dari farewell party
Lokasi: HAYS International College
Pukul 19.30 acara dimulai. Prof. Ismet Fanany dan Prof. Rebecca menyampaikan beberapa hal mengenai kedatangan kami, para pembimbing kami pun menyampaikan hal yang sama. Tak kuasa aku membendung airmata, pecahlah tangis haru, bahagia, sekaligus sedih karena harus meninggalkan Melbourne. Di sisi lain, aku dan yang lain masih belum percaya bahwa kami benar-benar berada di Melbourne. Usai pembagian sertifikat, sebagai bukti kami telah menyelesaikan short course, kami berpelukan dan saling mengucap salam selamat tinggal, karena hal yang sama tidak mungkin terjadi dua kali. Selanjutnya, rekan-rekan yang lain akan kembali ke seluruh penjuru Indonesia, melanjutkan studi yang mengamuk minta diselesaikan.

Aku selalu percaya, tidak ada yang tidak mungkin. Bisa pergi ke luar negeri yang dulu hanya angan-angan, kini menjadi kenyataan. Seorang anak kampung yang dulu hanya bisa bermimpi, kini membayar tunai salah satu mimpi besarnya.


Untuk teman-teman, pembimbing, dan para mentor, terima kasih atas waktunya yang berharga. Terima kasih atas pengalaman yang tak akan terlupakan. Tanpa bisa dihentikan, waktu akan terus bergulir, namun kenangan tak akan pernah bisa dihapuskan. Aku percaya, waktu yang akan pertemukan kita kembali. Dan saat itu terjadi, aku percaya, sayap-sayap yang sempat tertunda akan mengembang lebar dan membawa kalian terbang sejauh mimpi kalian. Teruslah bermimpi, dan kejar mimpimu wahai sahabat! Aku bangga, bisa memanggilmu keluargaku yang baru.




Kiri-Kanan:
Kakak yang ngasih password WiFi (semoga baca ya kak haha),
Bu Yuvi, Alvi Rahmi, yang merem mukanya ngga jelas :(
Hafna, dan mbak Juharny
Sebagai penutup cerita ini, aku ingin berterima kasih pada ke-28 rekan rekan Student Mobility Program, MAAF belum bisa kusebutkan satu per satu, kalian kebanyakan :'))
Untuk Bu Yuvi Andriani, terima kasih juga atas sharing-nya. maaf belum ter-sebut hehehe... Kakak yang ngasih password WiFi di University of Melbourne, aku lupa namamu! Maafin :(



Dan yang pasti, Mbak Ana STNK! thank you, mbak! maafkan adikmu yang udik ini, hahaha. juga untuk Bu Efin, walau beliau nggak ikutan berangkat, you are so helpful! Terima kasih, bu!


THANK YOU FOR READING
SEPENGGAL FOTO SISA
(masih ada ratusan, sih, tapi yaaaaa ngga bisa semua masuk)

Swanston Street, Melbourne

Partner in Crime: Minus Hendro
Foto bersama
Lokasi: University of Melbourne
Sisi lain Melbourne
Dapur penuh kenangan
Yay! Sertifikat tanda berhasil melalui perkuliahan!
Seluruh peserta pertukaran, professor, pembimbing
dan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Deakin University

Read More

9 Comments

In

Mustika Ratu Peel-off Mask Lemon Review

Logo Terbaru PT. Mustika Ratu, TBK


HEYOWW!!

Apa kabarnya inihh para pembaca?? saya doakan para pembaca sehat selalu yaa biar setia main main kesini huehehehe. Kemarin-kemarin saya baru saja memprediksi ajang yang sedang 'hot' di Indonesia, apalagi kalau bukan Puteri Indonesia 2017?? sudah baca, kan? HAH? ADA YANG BELUM? main main coba kesini. hehehe sekarang mau kembali ke jalur review produk, ah! hahaha...

Masih menyambut euforia Puteri Indonesia kemarin, saya mau coba review salah satu produk besutan Mustika Ratu. YAP! kali ini saya berpetualang di produk-nya para Puteri Indonesia :p kali aja jodoh saya nanti seorang Puteri Indonesia *ngarep*

Sesuai namanya yang sangat 'Indonesia', Mustika Ratu ini adalah produk ASLI tanah air. Sebetulnya, sudah lama keluarga saya pakai beberapa produk keluaran Mustika Ratu ini, tapi sayangnya saya belum pernah pakai produk apapun dari brand kosmetik ini. Jujur, tadinya saya pikir Mustika Ratu ini produk khusus emak-emak. TERNYATA SAYA SALAH BESAR! ada buaaaanyyaakkkk banget produk-produk yang bisa dipakai anak muda, dan UNISEX (maksudnya cewek-cowok bisa pakai). woaaahhhh, kudet banget ternyata diriku ini, hiks...

Produk yang bakal ku review kali ini adalah Peel-off mask. oke, sebelumnya ada cerita sedikit tentang gimana saya kenalan sama produk ini. Ceritanya, saya sudah tau produk ini duluan pas iklan produk ini wara-wiri di instagramnya @mustikaratuind, tapi saat itu saya belum 'ngeh' banget dan belum minat sama produk ini. Kebetulan, kakak saya yang dari Garut pulang ke rumah dan ngajak saya mencari masker charcoal yang dari Korea yang 'katanya' ampuh buat ngangkat komedo. Sudah keliling sana-sini untuk nyari produknya, tapi nihil. Akhirnya kita berakhir di Yogya Riaujunction, niatnya mau makan tapi mlipir dulu ke tokonya yang di lantai 1. Masuklah kita kesana, dan saya lihat ada pajangan produk Mustika Ratu. Kalau dilihat-lihat produknya Mustika Ratu sekarang sudah saaanggaat beragam. Setelah beberapa saat melihat-lihat produk apa saja yang tersedia disana, saya memutuskan untuk mencoba varian Foot Spray, Peel-off mask Lemon dan Masker bubuk indah warni untuk anti jerawat. Sebetulnya, di lantai 2 (apa lantai 3 ya? ya, 2 kalo ngga salah) ada 'House of Mustika Ratu' disitu, tapi karena sudah beli di yogyanya yaaa sudahlah mau apalagi. Sebenernya, sih, ingin coba produk Slimming series-nya juga hahaha tapi kan percuma kalau pake produk pelangsing tapi nggak dibarengi dengan olahraga teratur, makanya kusimpan dulu itu untuk nanti :p

Harganya sendiri untuk Footspray 100 mL sekitar Rp53.000,-
untuk Peel-off mask 60 gram sekitar Rp31.000,- dan untuk masker bubuk Rp8.000,- per satu sachet (saya lupa harga pastinya, soalnya kakak saya yang bayar :p)

Seperti biasa, kalau dapat 'mainan' baru pasti pengen buru buru nyobain, hehehe. Alhasil, saat mendarat di rumah, langsung saya coba produknya.

Setelah membersihkan wajah dari debu dan polusi, mulailah saya gatel ingin segera pakai maskernya.

Tampak depan produknya





Packaging produknya sendiri menurut saya lucu, mudah digenggam juga dan ngga makan tempat yang terlalu banyak. pas deh hihihihi












Tampak belakang produknya





Di bagian belakangnya terdapat penjelasan produk, cara pakai, dan komposisi dari si peel-off mask ini. Kalau menurut saya, Mustika Ratu, sih, insyaallah terpercaya yaaa... enggak akan pakai bahan-bahan berbahaya untuk kulit, hihihi.

Oh ya, di pojok bawah juga ada keterangan waktu expire-nya. jadi, kamu tau kapan harus menghabiskan produknya sebelum 'masa berlaku' nya habis








Saat produknya dikeluarkan





Saat produknya pertama menyentuh kulit *eitss* rasanya sejuk, dingiiiinnn. hehehehe.











setelah produk diratakan




Produknya bening, dan cukup kental. Agak sedikit lengket juga jadi agak sedikit sulit diratakan dengan menggunakan tangan kosong. Bantuan kuas sangat dibutuhkan disini :)

Oh, iya, satu tips saat memakai peel-off mask. Jangan mengaplikasikan terlalu tipis maupun terlalu tebal. karena kalau terlalu tipis akan susah diangkat, dan kalau terlalu tebal, sayang produknya. Percuma juga, kan, pakai banyak-banyak tapi susah kering dan ternyata hasil produknya sama dengan pemakaian secukupnya?








Saat sudah kering


Untuk bisa kering sempurna, produk ini membutuhkan waktu sekitar 15-25 menit. Namun saat itu, saya sedikit nundutan a.k.a. hampir ketiduran hingga membiarkan produknya sampai 45 menit!! (jangan ditiru, ya!) :p

P.S. Bayangin, dong, siang-siang panas pakai produk masker yang dingin di kulit? apalagi dengan bantuan kipas angin yang senantiasa membelai lembut, tepar lah sudah hahahaha.

P.S.S. maaf narsis :p







Saat kering, produknya cukup mudah di 'kletek' atau bahasa gaulnya di 'peel-off', which means produknya bekerja sesuai klaim :p Saya juga suka dengan efek yang ditinggalkan di kulit saya. Saya merasa kulit saya agak sedikit lebih kencang, dan yang paling berasa, SEGERRRR!!!

Ahhh, gak sia-sia juga beli masker ini. sudah saya pakai sekitar 3 kali (pemakaian satu minggu sekali) dan tidak ada tanda-tanda kulit menunjukkan ketidakcocokannya dengan produk ini. SYUKAAKKK!!!!


KESIMPULAN

HASIL: 9.00 / 10.00
HARGA: 8.50 / 10.00

REPURCHASE?
Kemungkinan iya, tapi saya ada rencana mau coba produk lainnya juga :p

WHERE TO GET?
Alfamart, Guardian, Yogya, Watsons, Supermarket dan Hypermarket lainnya. ada buaaanyyaakkk yang jual! :)


Seperti biasa, kalau mau main-main atau sekedar say Hi, bisa ceki ceki ke Instagram @billiansyaha atau LINE Id: billiansyaha


Regards!

Read More

0 Comments

In

Puteri Indonesia 2017 Final Prediction


"semua karyamu...
pengabdianmu.. 
kau persembahkan untuk bangsamu..
citra dirimu..
harum namamu..
memang kaulah Puteri Indonesia.."

The words above are the lyrics of Puteri Indonesia official anthem. As scheduled, tomorrow, 31 March 2017 Indonesia will have the new Puteri Indonesia. The respective winner will be sent to the Miss Universe Pageant, while the runner-ups will be sent to Miss International, Miss Supranational, and Miss Grand International.

This year is one of the most amazing year for Puteri Indonesia. As I told you in the previous post, all the 2016 queens were on their glorious moments. Each of them finished a satisfying job at their respective pageant.

What's so special about this pageant, again? there will be THREE international winners attending the pageant. Miss Universe 2016, Iris Mittenaere, will be in Indonesia on Friday morning, while former Miss Universe Natalie Glebova and the Reigning Miss Grand International Ariska Pertiwi has arrived early this evening (30/3).

Natalie Glebova was initially invited to Puteri Indonesia 2005 but cancelled her journey due to the 'travel warning' from USA and Canada (regarding the Bali Bombing), so Cynthia Olavarria, her first runner-up took her place and came to Indonesia.


As promised, this is my final prediction for Puteri Indonesia pageant.

Enjoy!



PUTERI INDONESIA
(Miss Universe Indonesia)

DKI Jakarta 5 - Bunga Jelitha Ibrani


This beauty is definitely the one! her charisma, her presence, and her fanbase is a good starter pack to compete in an international level. Moreover, she has some international experience which is a plus point for her. She was the former Supermodel International 2011 and in 2015 went to the U.S. for a photoshoot with GUESS? after winning the title of GUESS? Girl Southeast Asia


PUTERI INDONESIA LINGKUNGAN
(Miss International Indonesia)

Nusa Tenggara Timur - Karina Nadila

She has always been in the watch-this-girl list even since before she joined the audition. She is the only girl (so far) who has the fiery spirit of competing internationally. She always shows her high enthusiasm in every occasion, definitely a mental that we want to see in every winner.


PUTERI INDONESIA PARIWISATA
(Miss Supranational Indonesia)

Sumatera Utara - Putri Mentari Sitanggang

This girl is definitely a silent killer. Day after day during the competition, she began to rise and she looked definitely promising in an international pageant! love her!


THIRD RUNNER-UP
(Miss Grand International Indonesia)

Jawa Barat - Kevin Liliana

Jawa Barat sends an angelic queen this year. For me, this sweetheart is either a Miss International material or Miss Grand International material. She is definitely sweet, humble, and caring person. definitely a girl everyone wanna hang out with!


FOURTH RUNNER-UP

Sumatera Barat - Puji Chegana

This girl is also on the 'top list', as I told you before, this fashion design student has everything it takes to be a winner!


FIFTH RUNNER-UP

Kalimantan Timur - Miracline Samantha

this year's format will be a 'Top 10 + online vote winner' then a 'top 5 + online vote winner'. This girl is also a girl to be watched out. I missed her on my list previously but I can definitely see her on top! she is simply gorgeus, and silently climbing to the top!




TOP ELEVEN


DKI Jakarta 3 - Nadya Maudy

This girl, is actually gorgeus. But sorry to be honest, she hasn't the 'it' factor to help her go further. she might penetrates the top 11, but NO for an international pageant. Still, she is a beautiful girl!


Jawa Tengah - Dea Rizkita

Another darkhorse in the making! Before the pageant, I thought she wasn't the one to win. But as the time ticking in the competition, she showed her true potential. and I definitely want to see her on the semifinal list!


Jawa Timur - Fatma Ayu

This fresh-graduate lawyer could possibly gain the third crown for her province. but she still has lots of shoes to fill.


Sulawesi Barat - Evelyn Yuliesia

Another pageant alumni! She recently competed at Miss Model of The World, which makes audience couldn't just ignore her presence. She might earn the crown tomorrow, but she still needs to work on her body.


Sulawesi Utara - Luana Kenap

I know this year is a pressure for her as the reigning queen is from her province, but her beauty is just something we don't want to miss! I just think she might get the semifinal spot, but (in my opinion) sorry to say, no for the crown




BUBBLING UPS

Kalimantan Utara - Fatya Ginanjarsari

Papua Barat - Leidy Rumbiak

Kalimantan Barat - Pinkan Yunita

DKI Jakarta 6 - Maulvi Zehra




Well, No matter who wins tomorrow, Indonesia should definitely be proud. all the girls are truly amazing! Good luck, girls! Indonesia believes in you :)


Regards,

XoXo

Read More

0 Comments

In

Puteri Indonesia 2017 Pre-final Prediction


"The remarkable success of Indonesian pageant fighters batch of 2016 resulted to an even bigger pressure to the next batch competing in an international pageant."


Last year, Indonesia achieved its first grand slam crown through an epic performance by Ariska Putri Pertiwi in Miss Grand International 2016. this North Sumatran beauty became the first EVER Indonesian woman to finally win a major title. the very next day, Felicia Hwang broke the record of Indonesian placement at the Miss International beauty pageant by placing third. the next month, Intan Aletrino of West Sumatera placed seventh amongst all the competitor in the 2016 Miss Supranational pageant in Poland. To even out the euphoria, Kezia Warouw placed in the top 13 of the Miss Universe 2016 last January.

2017 will definitely be a year of joy yet full of pressure because all their successors are forced to stay (and even move further) in the position their predecessors have reached the previous year. I'm telling you guys, this is a real deal. their predecessors set a quite high standard for the successors to reach this year.


The 2017 Puteri Indonesia pageant is just around the corner and in a few days, we are about to witness the moment when pageant fighters class of 2017 is being crowned.

Here, I'm trying to figure out who will be crowned. I've seen all the contestants at all their best, so basically everyone is the winner but there will only one winner.

Starting from
THE ULTIMATE FIVE

Puteri Indonesia
(Miss Universe Indonesia)

Nusa Tenggara Timur - Karina Nadila

Damn! this beauty ain't need no drama. Despite of her height, she's such a complete package. she is an actress, no need to doubt about her confidence and public speaking. She is also a goofball, the girl-next-door, and people will definitely love her at the first sight, and that's all a Miss Universe winner should have.


Puteri Indonesia Lingkungan
(Miss International Indonesia)

Jawa Barat - Kevin Liliana

At first, I thought we have a boy in the competition (Kevin is a boy's name, LOL) but then I saw at her picture and DANG!! sweet girl is what I see. Her only flaw, I thought, is the incapability of looking fierce (sorry, my honest opinion). Whenever she had her face having a full glam look, she looked waaaayyyy older than her real age, which is something we don't want to see. I accidentally bumped with her once in a shopping mall, and she looked WAY more beautiful with less make up.



Puteri Indonesia Pariwisata
(Miss Supranational Indonesia)

Sumatera Utara - Putri Mentari Sitanggang

This sweetheart might be a real darkhorse in the competition. at first, I don't even figure her at my top list, but during the competition I see something interesting on her. She is an authentic beauty, she is also an attention-catcher. I just love her presence!



Miss Grand International Indonesia

Sumatera Barat - Puji Chegana

I'm not really sure that the one sent to Miss Grand International will be from the third runner-up, but wherever the delegate comes from, I definitely want Puji as the representative. She's mentally strong, she is fierce, and her figure is undeniably a bomb!


Fourth Runner-Up

DKI Jakarta 5 - Bunga Jelitha Ibrani

She IS my personal favourite this year. Everyone has been a fan for her and it seems like she has a very strong chance to win this year. One thing I concern so much about her is her public speaking ability. the new Miss Universe Organisation seems to love someone who is capable to inspire people, they seem to look for a spokesperson to spread the mission of their new Miss Universe brand instead of someone who is too 'expensive to do things'.



THE STRONG 10

Jawa Tengah - Dea Rizkita

She wasn't a favourite until I recently saw her in a video. The video clearly showed her vibrant personality and I guess that's enough to bring her on top. She also seemed promising during the fashion show session which of course being a plus point.


Sulawesi Utara - Luana Kenap

At the moment I saw Luana, I pictured the figure of Elvira Devinamira. She looked very 'Elvira'. Her elegance, her presence, her outfits reminded me of Elvira Devinamira so much that I guess she will bring the same luck as Elvira did in 2014. I know this is a double pressure to know the reigning queen is from Sulawesi Utara. what a double pressure! but I guess she'll handle it well.


Jawa Timur - Fatma Ayu

Her crowning moment last December was a little drama. How come a non-favourite contestant beat a huge favourite contestant during the final? (FYI, Ayu Maulida became the media darling during Puteri Indonesia Jawa Timur, but ended up near-winning). Now I know WHY. Fatma has the spirit of Puteri Indonesia, she is just undeniable. Whenever she took a group photo, people won't be difficult to recognize her. her performance during the fashion show was also jawdropping, which easily elevates her position to become the new favourite.


Sulawesi Selatan - Nurfitriani

This young girl is really cute. She brings a 'sexy' look to the pageant. I really imagine her as the 'Indonesian version' of Huong Pham, Miss Universe Vietnam 2015. She was one of the alumni of Artikawhulandary beauty camp (just like Karina Nadila) and all that might bring her to the next level in the competition


Papua - Frederika Mitra

Indonesia has thousands of black beauties, yet never send one to Miss Universe. I really want to see a black woman representing Indonesia to the Miss Universe pageant. we need to show the universe how diversed we are, how variative we are, and how potential we are. Olvah Alhamid (2015) was one of the strongest Papuan girl to have the chance of grabbing the crown, but ended up reaching only the top 5 spot. I guess this year Papua's Frederika Mitra might be one of the lucky girl to bring a new atmosphere to an international pageant.



THE WATCH-ME-OUT LIST

DKI Jakarta 3 - Nadya Maudy

Lampung - Feriska Anggrelita

Kalimantan Barat - Pinkan Yunita

Jambi - Sheila Afsari

Sumatera Selatan - Nur Harisyah



No Matter what will happen, I will still cheer for whoever being crowned. Remember, this is not my final prediction, anything might change. We still need to see the girls' performance during the rest of the competition.



Thank you so much for reading this, I hope you guys enjoy. NO harassment / derogatory comment needed here.

Reach me out
Instagram: @billiansyaha
LINE id: billiansyaha



Regards,
XoXo

Read More

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Laman