Tampilkan postingan dengan label skin care. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label skin care. Tampilkan semua postingan

In skin care Sunscreen

[Review] N'Pure Cica Beat the Sun Series - Sunscreen Ringan untuk Kulit Sehat


N'PURE Cica Beat The Sun Series


Hi, welcome back!

Kali ini aku mau kembali review sebuah produk yang cukup viral di sosial media. Bagaimana tidak, kalau kamu buka aplikasi TikTok atau Instagram, maka kamu bisa menemukan cukup banyak jumlah pengguna yang membagikan pengalamannya menggunakan produk ini. Rata-rata, kutengok reviewnya pun serempak berkata bagus. Tentu, sebagai konsumen biasa aku nggak mau begitu saja percaya sebelum aku mencoba produknya sendiri di kulitku. Sebab yang namanya produk, sesempurna apapun itu, tidak akan bisa cocok untuk semua orang.

Produk yang kumaksud adalah produk sunscreen besutan brand lokal N'Pure. Yes, tentu banyak pecinta skin care yang familiar dengan produk satu ini. Produknya diberi nama N'Pure Cica Beat the Sun. Bukan tanpa alasan, karena di dalam produk sunscreen-nya terdapat kandungan Centella Asiatica alias daun pegagan. Dilansir dari berbagai jurnal dan artikel, Centella Asiatica sendiri merupakan agen penyembuh dan penenang yang potent. Centella Asiatica diklaim sebagai antioksidan yang cukup berpengaruh bagi kesehatan kulit (Sabaragamuwa et al., 2018). Sebuah perpaduan yang menarik, mengingat fungsi utama sunscreen sendiri yang merupakan antioksidan dan pelindung kulit dari bahaya paparan sinar matahari.

Aku sendiri sudah mengincar produk ini cukup lama, namun baru sempat mengulas produknya sekarang. Beruntung, saat ada kesempatan aku bisa langsung memboyong seri lengkap dari N'PURE cica beat the sun ini. Sebelum masuk ke pembahasan, mungkin ada diantara kalian yang belum ngeh kalau N'PURE cica beat the sun ini punya dua produk yang beredar di pasaran, yaitu NPURE Cica Beat The Sun SPF 50+ Cream dan NPURE Cica Beat The Sun SPF 30 Powder. Mari kita ulas produknya satu persatu.




1. N'PURE Cica Beat the Sun SPF 50 PA ++++

Ini merupakan produk pertama yang ditawarkan N'PURE, yang tentunya juga diluncurkan terlebih dahulu. Aku sendiri pertama mengetahui eksistensi produk ini dari Maria Rahajeng (TV Host, Content creator) dimana pada sebuah kesempatan Maria membagikan rutinitas pagi harinya saat travelling dan produk inilah yang paling menarik perhatianku. Dari sana, aku mulai berselancar dan mencari tahu lebih dalam tentang produk ini. 

Produk ini merupakan jenis sunscreen hybrid, yang berarti ia merupakan gabungan antara chemical dan physical sunscreen. Kandungan pelindung sinar UV yang digunakan pada produk ini mencakup Ethylexyl Salycilate dan Ethylexyl Methoxycinnamate (Chemical sun protection) juga Titanium Dioxide (Physical sun protection) yang mana ketiganya merupakan bahan bahan yang cukup umum yang ada di dalam sunscreen.


N'PURE Cica Beat the Sun SPF 50+ Cream


Produk ini memiliki SPF 50++, dan sudah dilengkapi PA ++++ yang berarti produknya mampu melindungi kulit dari paparan sinar UV A dan UV B. Selain itu produk ini juga diklaim bebas paraben, bebas alkohol, bebas silikon, dan bebas parfum. Untuk info lengkapnya sila kunjungi situs resmi N'Pure disini.

Hmm... menarik.

Dari klaimnya yang luar biasa, aku sendiri semakin tertarik untuk benar benar mencobanya di wajahku. N'PURE Cream ini dikemas dalam tube berwarna hijau tua, yang cukup eye-catching bagiku (ya inilah mengapa dia menarik perhatianku di awal) dan dilengkapi tutup tipe ulir. Ujung pipa saluran produknya pun dikemas ramping sehingga meminimalisir produk yang mleber kemana-mana.

Ujung botol yang ramping. Cantik, ya?


N'PURE Cica Beat The Sun cream ini bertekstur krim agak encer dan berwarna putih susu. Produknya sendiri tidak terlalu encer, tapi juga tidak creamy atau 'berat' gitu. Ada di tengah-tengah, lah. Pemakaiannya sendiri cukup mudah, dan tidak sulit untuk diratakan di wajah. Sempat su'udzon akan menimbulkan kesan abu-abu di wajah, ternyata surprisingly krimnya sangat blendable dan tidak meninggalkan whitecast SAMA SEKALI. Worth an applause. Produk ini menyerap cukup cepat di kulitku dan kesan pertama adalah LEMBAB. Yes, karena ternyata setelah kubaca list ingredientsnya lagi, ada cukup banyak zat pelembap yang terkandung di dalam sunscreen ini. This is a good news untuk kalian pemilik kulit normal ataupun kering. Dare I say, tanpa moisturizer pun produk ini mampu memberi rasa lembap dan glow di wajah.

tekstur N'PURE Cica Beat The Sun Cream


TAPI, karena ini adalah good news bagi pemilik kulit kering, ini bisa jadi adalah bad news bagi para pemilik kulit berminyak. Sebab kalau salah pakai/berlebihan pakainya, kulitmu akan menjadi overly oily dan jatohnya kusam... Because that's what happened to me on my first try. FYI, kulitku juga tipe yang oily banget dan karena aku latah ikutan trend "dua ruas jari" alhasil kulitku menjadi berminyak parah dan jatohnya kusam. Beruntung aku sadar akan letak salahnya dan segera merevisi penggunaan produk ini. Setelah jumlahnya disesuaikan, maka tidak ada lagi kulit berminyak dan berefek kusam.

Untuk proteksinya sendiri, sepertinya klaim di produknya says it all. SPF 50+ dan PA++++ sudah lebih dari cukup baik dalam hal melindungi kulit dari efek buruk sinar matahari. I can now ride my bike in peace. Say buh-bye to burned skin, say hello to my healthy and protected skin! Psst, FYI pakai sunscreen dengan rutin bisa membantu mencegah timbul flek hitam dan penuaan dini, lho 😋 another reason to start investing on sunscreen, bund.

Produk ini dibanderol seharga Rp149.000,- dan kamu akan mendapatkan 35mL isi produk, which is pretty good deal. Nggak bisa kubilang murah, tapi dia nggak mahal juga. Oh, ya, ini bisa kamu dapatkan di e-commerce favoritmu (cari aja yang banyak kasih voucher 😂). Di wajahku sendiri isi 35mL ini cukup untuk satu bulan. A good investment, indeed.




2. N'PURE Cica Beat The Sun SPF 30 Powder

NAAAH, sekarang masuk ke produk yang bikin aku geleng-geleng. Produk ini adalah 'adik' dari sunscreen cream tadi, dan sepertinya N'PURE mendengarkan jeritan hati para pemilik kulit oily yang terlanjur jatuh hati sama sunscreen cream-nya. Setelah sukses dengan peluncuran SPF creamnya yang super duper moisturizing, N'PURE berinovasi dengan meluncurkan produk sunscreen berbentuk BEDAK alias BUBUK alias POWDER.

N'PURE Cica Beat the Sun Powder


Yes! Kabar gembira untuk kaum kulit berminyak, sebab biasanya bedak adalah sahabat karib para pemilik kulit berminyak (termasuk aku). Oh iya, jangan salah kaprah dengan bedak yang ditambahkan kandungan sunscreen, ya. Ini merupakan sunscreen berbentuk bedak. Bisa bedainnya, kan? Bisa, dong~

Jadi N'PURE Cica Beat the Sun powder ini memiliki kandungan SPF yang lebih rendah, yaitu SPF 30 saja. Tapi sebetulnya SPF 30 sendiri sudah lebih dari cukup untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Jadi, tidak rugi rugi amat, ya, mengingat produk ini diluncurkan khusus untuk kamu yang malas reapply sunscreen berbentuk cream atau memang kulitmu betul betul berminyak.

Produknya sendiri sangat ringkas, ringan dan praktis. Berbentuk tabung dan sudah dilengkapi dengan built-in brush untuk membantu pengaplikasian produknya. Cara pengaplikasiannya sendiri semudah memulaskan bedak pada wajah, yaitu dengan mengetuk-ngetuk produk dalam posisi terbalik dan tertutup, buka tutupnya, geser pelindung kuasnya dan ulaskan ke seluruh wajah. IT'S THAT SIMPLE. bener bener mind blowing, yuyur.

Saat diaplikasikan ke wajah, hasilnya ini akan matte dan nggak bikin kulitmu abu-abu, dan yang paling penting dia menyerap minyak berlebih sekaligus melindungi kulitmu dari paparan sinar matahari. uhuy! Saya suka, saya suka! Auto masuk pouch untuk selalu kubawa-bawa ini sih.



Brush bawaan dari produknya ini cukup lembut dan nggak kasar sama sekali. Nyaman digunakan. Isi bedaknya pun tidak berwarna, sehingga kembali lagi pada klaim bahwa produk ini tidak bikin kulitmu abu-abu. Oh, iya, untuk kandungannya sendiri masih sama dengan produk krim-nya, dan masih masuk kategori hybrid sunscreen.


lihat bedaknya beterbangan saat kuasnya diusap?

Produk ini bisa kamu beli dengan harga Rp119.000,- dan bisa kamu temukan di e-commerce favorit kamu. A good deal untuk 5gr sunscreen yang bagus ini~ Oh, iya, by the way kedua produk N'PURE di atas sudah teruji BPOM, Halal, bebas paraben, bebas mineral oil, bebas alkohol, dan juga bebas pewangi! Hayo, lho, kena racun~

Kalo kalian masih bimbang dengan keputusan mau beli yang mana, sini kubantu berikan perbandingan saat menggunakan keduanya

1. Wajah sebelah kiri yang menggunakan N'PURE Cica Beat the Sun Cream SAJA (catatan: penggunaan disesuaikan dan sudah dibiarkan set 30 menit)


verdict: pemakaian masih nyaman dan bikin glowing (see the nose part?)

2. Wajah sebelah kanan yang menggunakan N'PURE Cica Beat the Sun Cream lalu diakhiri dengan Powder. (sudah dibiarkan set selama 30 menit)


verdict:
Gila suka BANGET! Mukaku matte dan glowing, tanpa ada kilau yang mengganggu
(FYI aku gak suka muka terlalu glowy) dan ini ngga ganggu tone asli wajah sama sekali.
Hasilnya masih natural dan nahan minyaknya lumayan oke.

3. Perbandingan wajah kiri dan kanan




Gimana? Sudah tidak galau? atau malah makin galau suka sama dua-duanya? Kalo aku sih, yes untuk dua duanya. Kamu gimana?


Read More

0 Comments

In skin care

Envygreen Dead Skin Cell Remover: Chemical Exfoliator Lokal Kualitas Interlokal


Envygreen Dead Skin Cell Remover

Selamat datang, 2020!

Wait~ sudah masuk bulan kelima dan rasanya kurang pas untuk bilang selamat datang tahun baru😜
Tetapi, terima kasih telah setia menunggu.

Setahun sudah kutinggalkan dunia tulis-menulis. A lot has happened. Yang terpenting, hari ini aku putuskan untuk kembali mengisi tulisan di blog-ku yang random ini. Niat awalku adalah banyak mengisi section lifestyle, karena section health and skin care sudah cukup banyak kuisi. Sayangnya, pandemi yang terjadi belum memberiku izin untuk mengeksplor sudut kota dan mengisi ruang lifestyle. Tak apa, masih akan ada banyak waktu setelah pandemi berakhir.

Beberapa bulan belakangan ini, kurasakan kulitku sedang bersahabat. Pasalnya, tidak ada masalah berarti selain satu-dua jerawat yang muncul karena ketidakseimbangan hormon; which is normal. Aku tidak mau ambil resiko dengan mengubah rutinitas skin care sembarangan, karena untuk mencapai titik ini tidak mudah :’)

Itulah kenapa, sudah cukup lama tidak ada tulisan baru yang muncul. Karena belum ada produk baru yang sempat kucoba. Beruntung, kemarin aku dikirimkan sebuah produk untuk kucoba. Sayang sekali kalau kucoba begitu saja tanpa berbagi info seputar produknya, that’s why I decided to write down my journey with this product.

First off, aku mau ucapkan terima kasih banyak kepada Kak Lutfia (Instagram @lutfiaa_) dan Envygreen Indonesia yang memberi jalan aku untuk mencoba produk ini dengan percuma. Sending you guys virtual hugs!

As you can read on the title, produk yang kuterima adalah produk milik Envygreen yang sudah cukup terkenal, yaitu dead skin cell remover-nya. Jauh-jauh hari sebelum produknya tiba, aku sudah mulai lakukan research terhadap produk yang akan kuterima. Tujuannya, jelas supaya tidak salah dalam mengambil langkah dalam penggunaan produknya in real life.

Banyak situs yang kuselami untuk mengenal produk ini lebih jauh, dan sejauh mata memandang review pengguna terhadap produk ini cukup baik. Bisa diukur dalam skala kepuasan 4.5/5.0. Eits, tapi ini belum termasuk penilaian pribadiku, ya! Hihi 😆



Produknya sendiri sangat simple, mungil dan compact. Isinya 10 gram. Sedikit? Ya, kalian berpikiran sama sepertiku. Berat bersih produk ini sangat jauh jika dibandingkan dengan dead skin cell remover yang biasa kupakai, St. Ives, dengan berat bersih 170 gram. Awalnya kupikir aku dikirimi produk sample, ternyata saat aku cek website Envygreen, kebanyakan produk Envygreen memiliki bobot yang ringan—berkisar antara 5 gram hingga 100 gram. Kisaran harga yang ditawarkan pun beraneka ragam, mulai dari Rp19.000,- per item hingga ratusan ribu rupiah untuk bundling pack. Jika dihitung per gram dan dibandingkan dengan skin care serupa yang dijual bebas di supermarket, harga yang dibanderol tidaklah murah. Tergolong pada tingkat menengah. Sudah selayaknya produk ini memberi kualitas yang diatas rata-rata.

Untuk dead skin cell removernya, dibanderol dengan harga Rp32.000,- per 10 gram. Terhitung cukup mahal jika dibandingkan dengan St. Ives yang dibanderol Rp69.000,- per 170 gram.

Produk ini merupakan chemical exfoliator, yang berarti berfungsi untuk mengeliminasi sel kulit mati secara kimiawi—kulit mati akan terangkat dengan proses kimia, bukan karena digosok secara fisik. Kalau pada umumnya exfoliator adalah produk (krim, cairan, padatan) dengan tekstur kasar yang digosok dengan gerakan memutar pada kulit untuk meluruhkan kulit mati, dengan tujuan menggerus sel kulit mati pada kulit, chemical exfoliator bekerja meresap ke dalam lapisan kulit mati dan merontokkannya dari dalam sehingga mampu meminimalisir pergesekan kulit yang berlebihan yang bisa mengakibatkan iritasi. Pada kasus ekstrem, eksfoliator yang terlalu kasar bisa melukai kulit. Itulah kenapa chemical exfoliator ini lebih bersahabat pada beberapa jenis kulit tertentu.
Kalau boleh jujur, ini akan menjadi pengalaman pertama saya untuk menggunakan chemical exfoliator. Sudah hampir dua tahun saya lebih memilih menggunakan exfoliator yang berupa scrub. Alasannya? Lebih berasa aja kalau kulitku sedang dieksfoliasi.

That’s why, ini juga akan jadi tulisan yang—tidak hanya review, tapi juga sekalian first impression.
Pertama dituangkan di punggung tangan, hal pertama yang kulakukan adalah mencium baunya. Rupanya produk ini memiliki wangi yang menyegarkan. Walau begitu, wangi yang dihasilkan tidak mengganggu sama sekali—dan mudah-mudahan tidak berimbas pada kulit (beberapa orang tidak dapat mentolerir wewangian, biasanya mereka dengan alergi).

Tekstur produk pertama kali dikeluarkan isinya


Menurut instruksi pemakaian, pemakai harus mencuci wajah dengan sabun (jangan lupa bersihkan juga make up-mu—jika menggunakan riasan) dan menggunakan hydrating toner; atau memastikan kulit dalam keadaan lembap—bukan basah. Oke, kuikuti sarannya~

Produknya sendiri memiliki tekstur krim yang tidak pekat dan agak cair. Bisa kubilang mirip tekstur pelembap gel cream milik Pixy (in case you wonder). Saat dibaurkan, tidak meninggalkan residu dan tidak cepat kering. Semakin lama diusap, akan menghasilkan tekstur seperti remah remah hapusan pada penghapus karet; tandanya, produknya hampir selesai bertugas dan klaim produknya adalah turut membawa serta sel kulit mati pada tahap ini. Jika sudah dirasa kering dan tidak ada gumpalan saat mengusap kulit, pengguna bisa membilas produknya dengan air (tidak perlu menggunakan sabun—tadi kan sudah). Ingat, ya, diusap aja. Nggak perlu digosok keras keras.

Seperti gel cream

Setelah membilas, perubahannya langsung terasa saat itu juga (bukan, bukan karena saya diberi produknya cuma-cuma). Seperti habis menggunakan exfoliator pada umumnya, kulitmu akan terasa lebih halus dan lembut saat selesai membilas produk. Yang membedakan, setelah dibilas kulitmu akan terasa bersih dan lembut saja. Jika kamu pengguna physical exfoliator, kamu akan segera paham bahwa setelah meng-eksfoliasi kulitmu akan terasa lebih kering, kencang dan seperti ditarik—nah, setelah pakai ini tidak ada perasaan ditarik tersebut.

Sesaat setelah dibaurkan

This is also why I am able to write down the result shortly after I receive the product, karena hasilnya tidak seperti krim dan/atau serum yang mesti berminggu-minggu dipakai. Aku pun sengaja tidak meng-eksfoliasi kulit selama seminggu belakangan untuk merasakan hasil dari Envygreen Dead Skin Cell Remover ini 😜

Sel kulit mati yang terangkat (klaimnya)

Oh ya, ada satu hal yang hampir lupa kusertakan. Mungkin terdengar klise bagi para skincare junkies, tapi barangkali ada pembaca yang belum terinformasi: Jangan pernah gunakan exfoliator lebih dari dua kali dalam satu minggu. Gunakan sesuai jenis kulit dan banyaknya aktifitas yang memengaruhi regenerasi kulit. Kulitmu—percaya atau tidak, butuh waktu untuk beregenerasi. Berikan kesempatan untuk kulitmu sembuh secara alami, skin care mu hanya penunjang kesehatan kulitmu.

Overall, setelah seharian aku tidak merasakan ada rasa gatal, iritasi maupun kemerahan setelah menggunakan produk ini. Berarti, aku sudah boleh mengunggah tulisanku ini dan dibagikan pada pembaca. Kalau nanti ada reaksi tiba-tiba, pasti kuedit tulisan ini dan menulisnya secara jujur karena aku pun sama seperti kalian, aku hanya konsumen yang tidak menerima rupiah dari penulisan review produk. HEHEHE

FINAL THOUGHT
Hasil 9.00 / 10.00
Harga 8.00 / 10.00
Re-purchase? Kita lihat setelah habis 😉


Dan terima kasih, buatmu yang sudah berhasil baca sampai paragraf ini. Jaga kesehatanmu, jangan lupa Bahagia dan ciptakan pikiran positif pada masa seperti ini. Anggap saja ini bonus dari pemerintah untukmu merawat kulit yang bebas dari polusi 😉 beres pandemi, kita bertemu, ya!

Thank you 💕

Read More

0 Comments

In skin care

Freeman Beauty: Five-star Quality in a five-dollar product



¡Hola, todos!

Setelah lama tandus, akhirnya blog ini kembali terisi! Sorry for that. Anyway, selama vakum menulis aku menemukan banyak produk baru, yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Some are ‘ew, no’ and some other become my holy grail.

Salah satu produk yang masuk kategori holy grail-ku akan kubahas sekarang. Ini produk sudah melegenda, sudah ada sejak 1976. Memang aku aja yang kampungan, baru nemu sekarang :’)

Technically, ini bukan barang yang baru ditemukan gitu aja. Aku sudah mengincar barang ini sejak 2015 silam. Sayang, saat itu produk ini teramat sangat sulit ditemukan di Indonesia (offline). Terakhir kutemukan di Targét, saat aku kuliah di Melbourne 2016 lalu. Kalau kamu pembaca lama di blog-ku, kamu pasti tahu seberapa bencinya aku belanja online. Aku bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan uang, lalu menunggu demi sebuah barang. Aku lebih suka barangnya langsung kupegang saat itu juga. Aku juga lebih suka belanja di official store ketimbang di toko-toko sembarangan yang random gitu aja. Walau harganya lebih mahal sedikit, tapi tokonya resmi. Jadi, kalau mereka sampai jual barang palsu, bisa dipidana :D Lebih aman aja, gitu.

Dan karena alasan itulah, aku baru memutuskan istiqomah (aw) pakai produk ini, setelah tahu ada distributor resminya di Indonesia.

Produk yang kumaksud (yakin banget, nih, udah pada kenal) adalah FREEMAN MASK. IYA! Masker keluaran Freeman Beauty ini sudah ada distributor RESMI-nya di Indonesia. HUZZAH! 
Produk ini asli dari negeri KFC, Amerika (tulisannya made in USA soalnya, hahaha) dan kabarnya 
udah ribuan orang jatuh hati sama merek ini. Buktinya, kalau kalian googling “freeman beauty” maka yang keluar biasanya kata kata macem “cheap mask that makes you glow”, “skin savers under $10” dan sejenisnya, yang mengindikasikan bahwa produk ini murah tapi kualitasnya jempolan. Hal itu juga yang bikin seorang Billy penasaran sejak 2015.

Di Indonesia, importir dan distributor produk-produk Freeman adalah NEWAGE S/B (ngga tahu itu apaan, hahaha) dan sudah bisa kalian temukan di drugstore maupun swalayan. Aku sendiri nemu Freeman ini di toserba Yogya Riaujunction, Bandung dengan harga Rp125.000,- per tube, untuk SEMUA varian di rangkaian ‘feeling beautiful’. Jadi, mau pilih varian apapun, harganya sama, Rp125.000,-. Isinya pun banyak banget, 175 mL.

Freeman sendiri, makin kesini makin banyak variannya. Tapi tetep, yang paling best-sellingnya di rangkaian feeling beautiful. Mungkin karena khasiatnya udah melegenda (?). Variannya ada BANYAK! Jenis maskernya sendiri ada macem-macem, ada mud mask, clay mask, overnight mask, peel-off mask dsb. Aku sampe jongkok setengah jam, literally, buat memilih masker mana yang bakal kubeli (ya, maklum dompetnya terbatas. Maunya, sih, beli semua satu-satu).

Setelah semedi dan komat kamit sana sini, kuputuskan untuk membeli tiga varian dengan pertimbangan isi dompet dan kebutuhan kulitku. Itu pun sudah off-budget, karena target saya hanya mencoba satu tube hahahaha.

Saat itu, kulitku sedang breakout super parah dan beruntusan sana-sini. Tiga varian yang kubeli adalah Freeman Detoxifying Charcoal + Black Sugar Mud Mask, Freeman Cleansing Apple Cider Vinegar Clay Mask + Scrub, dan Freeman Hydrating Honeydew + Chamomile Overnight Cream Mask.
Mari kita terjun dan mengupas kegunaan maskernya satu persatu :P

Freeman Detoxifying Charcoal + Black Sugar Mud Mask


Kalau kamu suka nonton YouTube-nya Female Daily Network, pasti tahu bahwa masker ini sempat dibahas oleh kak Affi Assegaf di segmen Skincare 101. Bahkan, beliau lebih memilih masker ini ketimbang masker milik The Body Shop yang harganya hamper 3x lipat! Dari video itu juga, saya ingin mencoba masker ini. Ini masker tipe mud mask, dan klaim-nya akan membantu men-detoks kulitmu. Jelas kuambil karena saat itu kulitku sedang butuh detoxifier :’)

Klaim maskernya sendiri adalah to moisturize, re-mineralize, and make skin sensationally soft! Oke, berani juga ini masker klaim begitu. Ini adalah masker pertama yang kucoba.

Saat dikeluarkan, sedikit agak sulit. Cairannya seperti lumpur (yaiyalah mud mask) dan berwarna abu abu super pekat. Saat diaplikasikan, aku qaget! Biasanya mud mask begini akan sedikit kasar, tapi yang ini super duper halus dan glides on smoothly aja, gitu. Bener-bener kaya mentega, teksturnya halus dan nggak ada ‘grinjel-grinjelnya’. Maskernya wangi, kayanya sedikit flowery. Ini juga bikin kaget, biasanya masker yang charcoal begini bau baunya kaya tanah campur pasir gitu. Paham, kan? Hahaha, ya begitu, tapi ini enggak! Wangi banget.

Pas dipakai, sensasi ketariknya kerasa tapi nggak ganggu. Masih dalam batas wajar. Dan masalah utamanya ada saat proses bilas, susah coy! Hahahaha. Maskernya nempel di kulit, dan sedikit butuh waktu untuk membilasnya, tapi setelah pemakaian kedua aku paham cara membilas masker ini lebih cepat. Triknya, saat masker sudah kering (ngga masalah pemakaiannya tebal ataupun tipis) kamu basahi muka dengan air agak banyak, dan usap pelan pelan dengan tangan. Setelah sekitar 10 detik atau masker berubah menjadi lembek, bantu hilangkan maskernya dengan lap handuk kecil. Trust me, waktu bilasnya akan jauh lebih cepat dan lebih bersih ketimbang dibilas pakai air dan tangan saja.

Hasilnya, wajah beneran (sumpah, ngga bohong) kerasa lebih bersih. Rasanya itu persis kaya kita habis cuci piring super kotor, yang beresnya bersih + wangi terus keset. Gitu, lho. Gimana ya jelasinnya, intinya dia enak banget dan wajah bener bener kerasa bersihan. Pertamanya, kupikir itu hanya sugesti karena aku excited sama masker ini. Lalu, kucoba aplikasikan masker ini ke temenku yang ngga paham skin care. Reaksinya persis reaksiku :’) kata dia, mukanya jadi lebih keset, dan kerasa banget bersihnya. Beda dengan muka yang hanya dibersihkan pake facial foam. Se-seneng itu, karena maskernya beneran bekerja! Masker ini rutin kupakai dua kali seminggu, tiap hari Senin dan Kamis.



Freeman Cleansing Apple Cider Vinegar Clay Mask + Scrub


Ini masker yang kucoba dua hari setelah pertama kali mencoba masker pertama. Alasan kubeli varian ini, simply karena varian ini menang Best of Beauty Award, Allure 2016. Ngga mungkin sampe menang award kalau maskernya biasa aja, dong? Masker ini –katanya multifungsi. Dia bisa jadi masker, tapi sekalian jadi scrub, tapi bisa juga dipakai jadi facial foam. Canggih, kan?
Klaimnya masker ini bisa dipakai untuk tone-up, menyerap minyak, membersihkan, dan menghaluskan. Karena judulnya bisa buat scrubbing, of course maskernya ini ada grinjel-grinjel halus. Wanginya, yaa ampun tolong enak bener. Kaya Sabun cuci tangan indomaret gitu, yang apel. Tapi, emang wanginya agak mencolok ketimbang yang mud mask tadi, tapi buatku amat sangat nggak ganggu.

Yang ini, ngga mau kupakai jadi facial foam (walaupun bisa). Sayang, Rp125.000, buatku mahal. Kalau tiap hari dipakai, awetnya Cuma sebulan :p

Maskernya sangat amat gampang disebar, teksturnya seperti odol. Ngga perlu kuas masker, pakai jari pun cukup. Se-gampang itu diaplikasikannya! Maskernya ngga boleh didiamkan lebih dari 10 menit, katanya. Tapi memang cepet banget keringnya, ngga sampe 10 menit sudah kering. Padahal aku pakai tebel-tebel.

Saat dibilas, ini lebih gampang larut ketimbang yang mud mask. Cuma, kalo yang ini aku nggak lap pakai handuk, karena masker ini menawarkan sensasi scrub. Jadi sambil kubilas maskernya, sambil ku scrub wajahku. Sambil menyelam minum air.

Hasilnya, wajahku lebih seger dan lebih halus! Memang dia ngga terlalu deep-cleanse seperti yang mud mask, tapi untuk membersihkan dan menghaluskan dia jago banget! Kali ini, aku bangga karena aku beli combo yang paten untuk kulitku :’) Mud mask + Clay mask = kulit yang bersih + halus, sumpah.



Freeman Hydrating Honeydew + Chamomile Overnight Cream Mask.


Nah, kalau yang ini adalah the lucky buy. Awalnya beli karena iseng, warnanya bagus. Ternyata, dia compliment kerja dua masker diatas! Nangis gak, lo?!

Masker ini jenisnya leave-on. Teksturnya gel cream, separo gel separo cream. Kaya conditioner, tapi lebih encer gitu. Hebatnya, doi ngga bikin greasy dan lengket :’) bangga akutu. Nyerapnya super cepet dan wanginya seger! Wangi melon, kaya susu melon indomilk!

Awalnya, aku perang batin mau pilih varian ini atau yang peony (yang warna biru+pink) tapi at the end kupilih yang ini, ngga tau kenapa.

Sesuai statement-ku diatas, masker ini compliment kedua masker yang kubeli. Kenapa? karena tiap habis pakai mud mask atau clay mask, wajahku jadi keset dan matte. Kalau kudiamkan gitu aja, bakal produksi minyak lebih banyak karena wajahku pun butuh kelembapan (aside of it producing excessive oil) jadi selalu kupakaikan masker ini setelah pakai salah satu masker diatas. Biasanya, kalau aku pakai masker ini, aku ngga akan pakai moisturizer lagi. Buat kulitku, Masker ini sendiri sudah lebih dari cukup untuk menghidrasi kulit. Teksturnya yang light juga sering jadi opsiku kalau beneran lagi buru buru pengen tidur. Biasanya kupakai Nature Republic Aloe Vera sebagai moisturizer, tapi karena butuh waktu hampir setengah jam biar menyerap kadang aku ganti pakai Freeman ini supaya bisa cepat tidur. Hasilnya sama persis dengan Nature Republic, saat bangun dan cuci muka pakai air (tanpa sabun) wajahku masih akan kerasa lembab dan alus.

Sejauh ini, ketiganya bener bener bagus banget untuk kulitku, terutama mereka sangat amat berperan besar mengatasi breakout-ku yang kemarin sedang parah parahnya.

Tekstur masing masing masker




Dua minggu aku hanya pakai Micellar water, facial foam, nature republic, dan tambahan ketiga freeman ini (selang-seling). Bahkan aku stop penggunaan sheet mask karena khawatir cairannya menyumbat pori-pori. Biasanya rangkaian skin careku cukup Panjang, tapi saat breakout kemarin fokusku hanya memastikan kulit bebas dari kotoran.

setelah masker dibaurkan


Hasilnya? Jerawat dan beruntusanku beneran mengering dalam dua minggu :’) sekarang aku sudah pakai skin care secara normal, rasio pemakaian freeman pun sudah tidak se-intens saat breakout.

No wonder people love Freeman mask soooo much, because they are freaking good! Buat dompetku mungkin tidak murah (tapi tidak mahal juga), tapi dipikir-pikir dengan hasil dan jumlah sebanyak itu rasanya worth the price! Rp125.000,- untuk 175mL is a huge deal! Apalagi hasilnya terpampang nyata menembus cakrawala merasuk ke dalam sanubari, jelas ini masuk kategori “harus istiqomah” milikku.

OVERALL RESULT(untuk ketiga produk) 


Harga: 9.10 / 10.00


Hasil di kulit: 9.75 / 10.00

Re-purchase? DAMN YES!


Mungkin kedepannya aku akan coba varian lain, ada beberapa yang sudah kuincar diantaranya varian Hydrating Glacier Water + Pink Peony, Purifying Avocado + Oatmeal Clay Mask dan Rejuvenating Cucumber + Pink Salt Clay Mask. Can’t wait! (Padahal yang tiga ini masih banyak banget, hahaha)

Thanks for stopping by! See you! 😁

Read More

0 Comments

In skin care

The Saem Iceland Hydrating Soothing Gel: Alternatif Aloe Vera?

Wazzup, peeps? *so asik*

--GANTI--

Hola! Selamat datang kembali di blog sedikit faedah ini~ (na ini bener). Kali ini, saya berkesempatan buat bahas Soothing Gel, sama sama lagi booming. Cuma yang booming kan Aloe Vera gel ya? kalo yang ini, bahan dasarnya bukan aloe vera tapi air.

(si)apakah doi? jeng..jeng..jeng~ *Musik dramatis*

The Saem Iceland Hydrating Soothing Gel !!!
*Soft Claps*

Yep! doi adalah soothing gel besutan brand ternama dari negeri paman lee min ho, The Saem! Oke, sekarang saya beneran mau nanya serius. Udah pada kenal sama yang namanya Soothing Gel belum? nampaknya, syudah! yaghemana tidak, sekarang lagi booming yang namanya soothing gel, tapi yang bahan utamanya Aloe Vera (Lidah Bu Aya). Apa lagi kalau bukan si Nature Republic 92% Aloe Vera Gel itu. Weitsss, tapi bukan itu yang mau ku bahas sekarang. yaaa, mirip-mirip lah.

Jadi ceritanya, gara-gara pecinta skin care kelas atas yang ngaku mukanya jadi mulus setelah pake Aloe Vera-nya si Nature Republic itu, buaanyyaak sekali brand yang latah ikut-ikutan ngeluarin produk aloe vera juga. Sebut saja Guardian, Mineral Botanica, Wardah, sampe sesama brand Korea The Saem! canggih! nah, khusus merek The Saem ini, nggak cuma bikin Aloe Vera Gel, tapi juga bikin Iceland Soothing Gel. apakah itu? Yuk kite capcus bahas~

Sesuai dengan judulnya, The Saem Iceland Soothing Gel ini konsistensinya yaa identik dengan gel pada umumnya. Kalo kamu belum pernah pegang aloe Vera Gel, mungkin saya harus ibaratkan sama cologne-nya Eskulin yang iklannya Andien itu lho. Tau, kan? yang setiap harinya punya wangi beda-beda *malah nostalgia jaman esde* :v

The Saem Iceland Soothing Gel ini kudapatkan karena frustrasi nyari Aloe Vera gel. Seriusan, lho! sekarang susah nyari Aloe Vera Gel, hahahaha. Saya kan anaknya agak skeptis gitu, curigaan mulu sama yang namanya online shop. Terakhir saya cek, online shop kepercayaan saya Althea belum beroperasi lagi. Huft~ jadi harapan satu-satunya yaa nyari barang manual, atau nyari alternatifnya.

Denger-denger, si Nature Republic ini buka toko resmi di Indonesia. Tapi sayang, cuma ada di Jakarta (padahal saya gatau bener apa kaga, hahaha). dan katanya lagi, manusia manusia musti antre puanjaang bener dan sebelum jam 12 siang udah abis barangnya (sebegitu lakunya, kah?). Bahkan nampaknya persaingan berebut kacang rebus di layar tancep juga kalah saing sama berebutnya mbak-mbak di toko Nature Republic ini. ckck~

Lalu, temenku bilang katanya The Saem juga punya aloe vera gel, sama bagusnya dengan si Nature Republic. Penasaran, dong? langsung lah saya chhaaawww ke mal terdekat yang ada booth The Saem-nya. Nyampe di mal, ternyata barangnya belum restock *wadezig* padahal sudah eksaited banget mau beli si inih. Tapi, ada satu benda yang menyita perhatianQu. Botolannya bentuk stalagnite yang ada di gua-gua gitu. Pas baca tulisan "Tester" ya sebagai manusia ogah rugi saya cobain, dong, mumpung gratis~ ehhhhhhhhh ternyata bentukannya gel, terus wanginya enak banget pula. Dasar bego, mentang-mentang bungkusnya lucuk langsung dibeli *dihajar massa*

Entah bisikan siapa, rupanya hal tersebut menjadi keuntungan tersendiri. Botolnya lumayan besar, pas dilihat ternyata isinya sama persis dengan si Aloe Vera incaran (300 mL). Bedanya, yang ini menggunakan tube, bukan jar. Penasaran, saya browse si produknya.

Produknya ternyata (seperti yang saya jelaskan di atas) merupakan alternatif dari Aloe Vera gel. Kalau aloe vera gel menggunakan Aloe (Lidah buaya) sebagai bahan utamanya, yang ini menggunakan air mineral yang disadur (apasih) alias diperoleh dari negara Islandia nun jauh disana (Iceland). Hmm, jauh bener yes~ coba pake air gunung kidul mungkin harganya cuma Rp10.000,- satu tube. Oh, ya, per tube ukuran 300 mL si soothing gel ini dibanderol seharga Rp149.000,- sementara untuk tube yang lebih kecil (saya lupa ukuran berapa mL) dibanderol Rp99.000,-
hmm... menarique~

Karena tertarique, saya memutuskan untuk membeli satu botol yang ukuran 300 mL.

Kalian tau lah, apa yang terjadi selanjutnya. (read: buru buru pulang pengen nyobain)

Ini belum balik ke rumah, lagi makan
Harga-nya pun masih nempel belum disobek hahaha
Lumayan besar, bukan? secara teknis, sih, ini sebenernya sama aja sama si Aloe vera isinya. Hanya, bentuknya yang tube meminimalisir kemungkinan produk terkontaminasi bakteri di tangan. Kalo kemasan jar yang dicocol dicolek-colek, kan, produk yang ngga keambil ikut bersentuhan tangan. Kalo ini enggak.

Keterangan belakang produknya
(keliatan, gak?)
By the way, percobaan pertama saya cobain as a moisturizer. Tapi dipakenya ala-ala make Aloe vera gel. Jadi saya ambil cukup banyak, saya ratakan ke wajah dan leher, lalu saya diamkan sampai semuanya menyerap sempurna, lalu tidur.

Hasilnya? hmm.. karena baru pertama pakai, jadi yaa biasa aja. Tapi emang pas pagi-paginya cuci muka, kerasa lebih seger aja gitu.

Percobaan kedua saya pake sebagai base make up. YA ! BASE MAKE UP ! Jadi, Januari kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi pewara (MC) dalam pembukaan Bandung English Language Teaching International Conference (BELTIC) 2018 di hotel Topas Galeria, Bandung. Di kesempatan ini, saya coba pakai gel ini sebagai primer sebelum mengaplikasikan foundation di wajah. Hasilnya? Cukup mengagetkan, ternyata muka masih stay the same sampai saya hapus sebelum jam makan siang. Saya mulai make up pukul 05.00 dan menghapusnya sekitar pukul 11.30 tanpa touch up. Hasilnya lumayan, tidak ada yang berubah di wajah, hanya sedikit minyak di kening dan di bagian hidung.

Update:
setelah 2 bulan menggunakan gel ini sebagai moisturizer, wajah jadi sedikit lebih tenang (maksudnya ngga ada reaksi tiba-tiba)

By the way, ini penampakan produknya

Produk baru dikeluarkan
Produk dibaurkan

One more thing, produknya juga cukup awet. Bisa tahan 2-3 bulan dengan pemakaian jumlah normal 2x sehari.

Oh ya, wasyukurillah ternyata nggak bikin wajah jerawatan juga. Mungkin karena memang produknya ringan jadi ngga nyumbat pori-pori wajah.


KESIMPULAN

Hasil produk di wajah : 8.50 / 10.00
Harga : 8.00 / 10.00

Re-purchase?
Mungkin, tapi mau nyobain Aloe vera gel dulu. hahaha


Okay, thanks for reading this! Semoga membantu kalian kalian yang bingung mau nyobain Aloe vera tapi nggak nemu nemu. Produk ini beneran worth to try :))

Cheers!
@billiansyaha

Read More

1 Comments

In skin care

Senka Perfect Whip: My New Holy Grail ?

Hola! akhirnya bisa kembali kesini. mwahahahaha~

Eniwei baswei, Selamat tahun baru! I know, telat. BANGET. Yahhh, gapapa lah yaaa, itung itung menyambut tulisan pertama di tahun yang baru. Aheuy!

Sesuai judulnya, hari ini gua mo review facial foam yang lagi HEITSS.. (bacanya pake intonasi ala-ala Suhay Salim). Well, actually saya agak ketinggalan nampaknya. Produk ini ternyata sudah hype sejak jaman firaun.

Pertama-tama, saya mau mengucapkan terima kasih pada kesayangan saya si Kojie San karena telah menemani selama hampir 4 tahun menjadi holy grail. Jadi, di tahun 2018 ini saya memutuskan untuk mengganti rutinitas skin care saya. Usia saya sudah menginjak kepala dua, saudara-saudara, jadi saya rasa ada beberapa hal yang harus saya perhatikan ketimbang sekadar mencerahkan dan mencerahkan dan mencerahkan.

Oke, alasan pertama saya meninggalkan Kojie San adalah: kulit sudah kembali ke warna semula. Saya pikir warna kulit ini sudah sangat cukup untuk saya, jadi akan sangat sangat disayangkan kalo saya masih terus menggunakan produk brightening tapi kulit saya sudah tidak butuh itu lagi.

Alasan kedua: di usia 20 ini kulit saya sudah bukan kulit remaja. Biasanya, masalah utama kulit remaja adalah jerawat, komedo, dan kulit berminyak (hayo ngaku!). Yes, setidaknya itu yang saya alami saat masih berusia belasan abad tahun. Taaaapppiiiii, akhir-akhir ini saya rasakan kulit saya sudah JAUH (literally, JAUH) lebih stabil ketimbang satu atau dua tahun kebelakang. Kulit saya saat ini sudah tidak terlalu berminyak, dan jerawat pun sudah jauh lebih cepat hilang (ya, jerawat masih suka muncul tapi dalam hitungan hari sudah kempis).

TERNYATA, setelah selesai masalah lama muncul masalah baru. apakah itu????

M A I N T E N A N C E ! ! !

Yasssss! ternyata mempertahankan kulit dalam kondisi netral (perseneling mobil kali ah) bukanlah perkara mudah! Itu tandanya, aku harus siap berhadapan dengan fase Trial-and-error lagi. Hwaaaaaaa~ panik dong saya. Kumaha tidak?! Dulu, saya bisa menghabiskan waktu hingga 1.5 tahun untuk menemukan Kojie San tercinta (maksudnya untuk menemukan skin care yang cocok). WAGHEELANEH kalo sampe harus jadiin muka bahan percobaan lagi.

DAN, masuk lah kita ke tokoh utama penyelamat hidup jeng jeng jeng jeeenggggg (intronya panjang anjis).
Harga Senka Perfect Whip

Jadi *sianjir cerita lagi :')* pertamanyaaa saya iseng nontonin youtube, nyari-nyari skin care yang khusus kulit normal (sengaja btw) dan menemukan banyak ciwi-ciwi dengan nyengir kuda merekomendasikan Senka Perfect Whip ini sebagai Facial Foam yang katanya lembut dan lain lain. Sebenernya ada ratusan produk yang saya lihat dari berbagai video, tapi buanyaak yang di dalem videonya ada si produk inihh.

Karena kepo, besoknya saya langsung nyari ke Watsons buat buktiin kehebohan facial foam ini. Sangat mudah ternyata untuk menemukan doi, soalnya ternyata Watsons baru aja ditunjuk jadi distributor resmi si Senka ini (meureun eta ge, soalnya baru ada di watsons).

Harganya yang saya beli Rp73.900. Aneh memang, soalnya di youtube pada bilangnya 65ribuan huft. Tapi yaudahlah ya, siapa tau emang cocok.

Penampakannya
Dasar kelakuan aneh ga sembuh-sembuh. Kalo baru beli barang baru suka gakuat ingin dicoba hahahaha saking semangatnya stiker penjelasan ampe disobek-sobek (bego emang, nanti gabisa jelasin) begitu baca tulisan di belakangnya isinya huruf jepang semua, baru kerasa begonya :')

Kesan pertama pake facial foam ini: Girang kaya anak kecil main sabun kodomo yang sebotol gede isinya foam semua (pada tau, dong???? kalo gatau keterlaluan~)
Foamnya, naudzubillah tebel bener. Otak langsung mikir, "Pantes namanya Whip instead of Foam. Ternyata teksturnya lebih mendekati whipped cream ketimbang foam."


Karena foamnya yang tebel, waktu cuci muka yang asalnya udah lama (soalnya biar memastikan muka bener-bener bersih) jadi MAKIN LAMA. Ngapain lagi kalo bukan karena main main sama busa yang super tebel ini? Bahkan Kodomo yang isinya busa semua pun, busanya ngga setebel ini. Ini busa ngalah ngalahin busa ganjelan beha bencong Sukamiskin kayanya (E maap).

For Your Information, bikin busanya agak sedikit tricky. Untung saya sempet ceki-ceki YouTube dulu sebelum beli. Jadi nggak salah pakenya. kenapa tricky? Soalnya ternyata kalo makenya asal, busa yang dihasilkan yaa asal juga. Mesti rada sabar kalo mau bikin busa yang melimpah dengan tangan kosong (di YouTube kebanyakan pake bantuan semacam jaring penghasil busa gitu). DAN satu lagi, jangan terlalu banyak nuangin produknya. Secuil juga kalo emang jago mah busanya buanyaakkkk. dan dari reason tersebut, saya nggak nyesel menghamburkan Rp74.000 untuk sabun muka inih, bakal awet. DIJAMIN (Asal makenya kira kira aja). Sejauh ini, saya udah pake selama 4 minggu lebih beberapa hari dan sisa produk masih 3/4nya. It means, kalau berkurangnya konstan (obat sakit gigi. Ponstan deng *digaplok massal*) berarti satu tube bakalan habis 16 minggu atau kurang lebih 4 bulan. Berarti satu bulannya cuma ngeluarin uang dibawah 20 ribu, which is cool!

Oh iya! saya ampir lupa, pertama saya agak sedikit skeptis terhadap busa yang super melimpah ruah ini. Gimana tidaque? busa kan umumnya dihasilkan dari detergen. Makin banyak busa = makin banyak detergen! Sekalian aja cuci muka pake Rinso! Eh ternyata saya cuma suudzon. Busanya, menurut beberapa artikel yang saya baca, dihasilkan dari ke pong pong (kepompong deng). Cuma gatau kepompong apaan, yaa intinya ini bukan dari detergen/SLS lah ya~

KEZAN KEZAN
Pertama pake, dengan busanya yang super banyak, saya pikir bakalan punya efek ngencengin agak narik gitu macem si sabun Kojie San. Eh, ternyata nggak! ini ya lembut aja gitu~

Efeknya agak aneh sih menurutku. Saya kan baru BANGET lepas dari skin care Kojie San, yang notabene sabunnya bikin kulit kuenceenngg. Lah ini pake facial foam yang ringan jadi berasa aneh aja gitu :') tapi seiring berjalannya waktu, diriku mulai terbiasa dengan hal yang tadinya kupikir tak biasa (Korban Dilan). By the way, udah nonton Dilan? Hati-hati di bioskop banyak tante dan cabe cabean yang tiap adegan Dilan ngegombal bakalan kelojotan gak jelas.

Oke, skip~

Intinya ini sabun muka MILD. Ringan. MUNGKIN akan aman untuk yang sensitif. MUNGKIN.

OVERALL

Hasil Produk Terhadap Kulit : 8.50 / 10.00
Harga : 8.00 / 10.00
Re-Purchase : Yes! Tapi mau abisin dulu satu tube ini


Oke, ada satu yang hampir saja tertinggal. Setelah 4 minggu pake ini, breakout tidaque? Wasyukurillah, TIDAQUE. Sejauh ini, masih ngga ada respon yang negatif dari muka. Jerawat, iya masih suka keluar. Apalagi kalo menu makanan gak dijaga, jerawat pasti muncul. Tapi kuanggap itu sangat, SANGAT NORMAL. Soalnya mau pake atau nggak pake produk di muka, jerawat begituan memang suka muncul. Tak perlu kuatir soalnya bakalan ilang dengan mengatur pola makan, pola tidur dan minum air putih :')

Kayaknya, cukup segitu aja kali, yes. Jangan lupa mampir ke

Instagram: @billiansyaha
LINE: billiansyaha

Ciao Bella!

Read More

2 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Laman