In eau de parfum HMNS parfum perfume

HMNS Essence of the Sun: Parfum dengan Solar Accord pertama di Indonesia [Review]


 

Hi, welcome back!

Sesuai dengan kalimat penutup di pos sebelumnya, kali ini aku akan membahas satu varian lain besutan HMNS Perfumery: Essence of The Sun. Selain varian Orgasm yang wanginya enak banget, ternyata HMNS berhasil menarik perhatianku lewat variannya yang ini. Kalau kalian sudah membaca tulisanku sebelumnya, tentu parfum ini tidak jauh jauh dari karakter favoritku: warm and sweet.

HMNS Essence of the Sun ini diluncurkan pada bulan November 2020, di tengah pandemi Covid-19, dengan tujuan untuk mengingatkan kembali akan suasana liburan bagi semua orang yang belum bisa liburan. HMNS menghadirkan parfum dengan solar accord pertama di Indonesia. Solar accord sebenarnya sudah sukup populer di Eropa, namun belum banyak yang familiar di Indonesia. Cukup menarik, mengingat seharusnya parfum dengan Solar Accord lebih populer di negara beriklim tropis seperti Indonesia, ya? Solar Accord sendiri digambarkan tim HMNS sebagai ‘the smell of the sun’ meski awalnya cukup membingungkan bagiku, karena seperti yang kubilang tadi: solar accord belum familiar di telinga penikmat parfum nusantara, kan? Aku sendiri pun hanya bisa menerka-nerka, bagaimanakah wangi parfum dengan wangi matahari? Apakah wanginya akan tercium seperti bocah yang pulang ke rumah setelah seharian main layangan? (ngerti dong wanginya kaya apa?).

Sebelum masuk ke bahasan wangi, let’s talk about the packaging.


HMNS: Essence of the Sun - Packaging



PACKAGING

HMNS Essence of the Sun ini dikemas tidak jauh berbeda dengan Orgasm, dengan boks putih yang kokoh dengan ukiran abjad E.O.S. yang cukup besar pada permukaan wajahnya. Di dalamnya pun masih sama, berisikan warranty card yang bisa kamu klaim apabila terdapat kerusakan, dan voucher Rp25.000,- untuk pembelian parfum HMNS selanjutnya—varian apa saja. Di dalamnya masih terdapat busa padat yang mengapit botol parfumnya dengan sangat baik, sehingga kemungkinan terguncang dan pecah dapat diminimalisir.

The bottle


Untuk kemasan botolnya sendiri, sedikit berbeda dari varian orgasm yang menggunakan stiker berwarna putih, HMNS Essence of the Sun ini menggunakan emboss berwarna emas yang mengukir inisial E.O.S. pada bagian kanan botolnya. Sangat cantik. Pada sisi kanan botol juga terdapat tulisan Essence of the Sun yang diukir berwarna emas. Botolnya sendiri berwarna bening, dengan isi cairan parfum berwarna bening sedikit kekuningan (mungkin dia goal-nya mau bikin warna gold, kali, ya?).

HMNS EoS ini memiliki tutup botol berwarna silver yang cukup berat dan kokoh. Uniknya, tutupnya ini menggunakan sistem magnetik sehingga terkesan lebih mewah dan juga lebih aman saat dibawa bepergian. Meski begitu, tutup non-magnetic pada varian Orgasm saja menurutku sudah cukup melindungi parfumnya.

Untuk kemasannya sendiri, tidak jauh berbeda dengan varian Orgasm. Berisi 100mL dan cukup besar dan berat.

★★★★★ 5 out of 5


tampak belakang boks HMNS EoS


THE SCENT

Dilansir dari akun Instagram @hmns.id, HMNS EoS ini menggabungkan notes-notes yang sangat ‘tropis’ sehingga pas rasanya dengan goalnya di awal: membawa penggunanya untuk bisa merasakan sensasi berlibur lewat wewangian. Untuk notesnya sendiri, HMNS EoS dideskripsikan dengan notes sebagai berikut

Top Notes: Bergamot, Coriander Seed, Pink Pepper

Heart Notes: Jasmine Sambac, Turkish Rose, Tiare Flower, Solar Accord

Base Notes: Vanilla, Absolute Tonka Beans, Ambrette, Cedarwood



Kalau di hidungku, sesaat setelah menyemprotkan parfumnya akan langsung tercium wangi Jasmine bercampur dengan vanilla dan sedikit bergamot. YES! Meskipun ditaruh pada heart note, Jasmine-nya langsung ketangkep di hidungku. Tipe jasmine-nya disini bukan tipe jasmine penganten yang beraura horror, tapi jasmine yang warm dan seductive gitu—if you know what I mean. Wangi vanilla-nya disini juga menurutku berimbang dengan wangi jasmine dan tidak overpowering. Wangi vanilla-nya masih akan bisa diterima mereka yang kurang menggemari wewangian vanilla, kok. Bergamotnya juga hadir untuk penyeimbang wangi-nya sehingga parfumnya akan terasa lebih segar.

Setelah sekitar 5 sampai 10 menit, wangi bunga Tiare-nya mulai berasa, dan di fase ini aku mulai mencium wangi wangi seperti sun tan lotion. Wangi parfumnya ini jadi berasa kaya kita pakai sun tan lotion tapi ditimpa body mist tiare dan jasmine. Sangat creamy dan fresh, dengan wangi creamy-nya yang dominan. Sampai sekarang sudah habis setengah botol, aku berasumsi inilah solar accord-nya. Wanginya persis seperti orang orang yang habis berjemur di pantai, in a good way.

Setelah hampir setengah jam aku mulai bisa mencium wangi vanilla yang lebih kuat dari fase awal dan juga wangi tonka beans, walau hidungku sebenernya juga nangkep ada wangi kelapa (?) disini. Mungkin efek si solar accord yang dicampur dengan vanilla. Kalau ada satu wangi yang paling mendekati, itu wanginya seperti santan matang yang masih hangat bercampur dengan vanilla extract dan sedikit wangi bunga, very delicious smelling. HMNS maafkan hamba, that’s the best way I could explain

Makin lama didiamkan, wanginya akan kembali ke fase dua alias wangi yang menyerupai sun-tan lotion yang super sexy, juga tetap dengan pendirianku kalo ada wangi kelapa disana. Meskipun sebenarnya di deskripsi notes tidak ada wangi kelapa (?) bingung, kan? Honestly, sambil ngetik ini aku ngebayangin lagi nyeruput Chatime coklat di jalanan Legian menuju pantai Kuta. Bener-bener enak banget wanginya!

Intinya, wanginya ini masuk golongan fresh, creamy, very sexy, dan seductive (in a way) dan ini tipe wangi yang makin pemakainya keringetan makin wangi. Gilda gak tuh?! Bener-bener ini parfum yang sempurna buat pecinta wangi manis tapi ingin pakai wangi manis siang-siang. Wanginya sopan dan alluring. Aku tiap pakai parfum ini beneran kebawa suasana seperti sedang di pantai di bawah terik matahari, lho.

★★★★★ 5 out of 5


SILLAGE, PROJECTION, AND LONGEVITY

Untuk jejak aromanya, parfum ini surprisingly sangat bagus di kulitku. Apalagi kalau sebelumnya aku pakai The Body Shop Warm Vanilla Body Yogurt. BAM! Kalo lewat, orang langsung nengok. Asli.

Meski jejak aromanya baik di kulitku, sayangnya untuk projection tidak sebagus Orgasm. Well, mungkin karena memang dikhususkan untuk siang hari makanya parfumnya bukan tipe yang bold dan ngasih statement, "here I come, biatch". That’s okay, karena sejujurnya wanginya penuh sopan santun. Hahaha.

Longevity EoS di kulitku bekerja sangat baik, bisa bertahan 4-5 jam di indoor dan 2-3 jam outdoor. Meski begitu, bukan berarti setelah lewat 5 jam itu wanginya langsung hilang. Wanginya masih nempel di kulit meski memang harus diendus endus dulu, sih. Kalau mau bikin orang nengok, ya mesti re-spray.

★★★★☆ 4.5 out of 5



I would honestly wear this on VACATION. Pasti, sih, kubawa liburan ke pantai. Tapi untuk sekadar kuliah-kerja pagi hari, kalau kurang suka wangi aquatic/floral yang hepi hepi ini bisa banget jadi opsi, sih. Atau mungkin kamu mau pakai ini saat brunch di restoran? Atau saat ngopi sore di café menikmati semburat jingga golden hour? Bisa banget, ini buatku perfect scent abisss! Tapi jujur kesempurnaannya memang jadi lebih maksimal saat dipake liburan ke pantai HAHAHA. Oh, satu lagi, ini bisa juga aku pake untuk olahraga, lho (remember that it blends well with my sweat? Exactly for that reason.)

Harga parfumnya sendiri dibanderol seharga Rp367.000,- untuk kemasan 100mL, sedikit lebih mahal dari Orgasm namun mengingat bahan bakunya yang unik dan untuk performa yang luar biasa keren itu, this is a good deal. Parfumnya pun bisa kamu cari di e-commerce kesayangan kamu, cari aja yang banyak vouchernya :))

Would I recommend this? Absolutely.

Always remember when wearing perfumes, there is no rules: no right, no wrong. Pakai apa yang kamu sukai dan apa yang blends well di kulit kamu. Keep on trying and find your signature!

That’s pretty much about it, thanks for reading. Ciao!

Read More

1 Comments

In eau de parfum HMNS orgas parfum perfume

HMNS Orgasm: One of The Best Local Fragrance? [REVIEW]



Hi, welcome back!

Seneng banget rasanya akhirnya bisa kembali mengisi kekosongan Blog yang nyaris tandus ini. Hahaha. First of all, I want to let you know that currently there's so much going on in my life that I almost forget why I started this blog. Luckily, aku terhenyak kala melihat salah satu kawanku yang menulis blog baru dan mulai teringat kalau aku pun ternyata punya buaaanyak sekali bahan untuk kupos di Blog ini. Shout out to Safira Nys karena postingan dia yang menginspirasiku untuk kembali menulis.

Anyway, sekarang aku sedang aktif membuat konten via aplikasi Instagram dan Female Daily Network. Jadi barangkali mau mampir untuk menjenguk isi tulisan singkatku boleh mampir di instagram @billiansyaha dan billycorna di aplikasi Female Daily Network.

Okay, let's get to business. Jadi, selain skin care, make up, kuliner, dan ulasan tempat, ada satu hal lagi yang aku sangat gemari: Koleksi parfum. YES, aku obsessed banget sama minyak wangi for as long as I can remember. Bahkan kayanya dari kecil tiap ke mall atau supermarket pasti gak lupa untuk mampir dan sekadar endus-endus minyak wangi.

One thing yang aku sadari setelah bertahun-tahun menggemari minyak wangi adalah ketertarikan aku pada parfum tipe gourmand, alias parfum parfum wangi manis/makanan. Meskipun ada beberapa parfumku yang floral, fruity, woody, spicy, dan lain sebagainya, parfum tipe gourmand tetap mendominasi koleksiku. Bagi banyak orang, parfum gourmand itu bikin eneg dan pusing. Bahkan gak sedikit perfume expert yang bilang parfum gourmand susah dipakai di cuaca tropis negeri tercinta Indonesia ini. Tapiiii... ada satu hal yang harus orang-orang ingat, bahwa parfum bersifat netral dan subjektif. Selama kamu suka dan nyaman menggunakannya, go for it! But remember to know your place as well, kalau misal suka wangi manis sepertiku dan mau pakai siang hari saat panas terik kalian bisa coba tone down aromanya dengan menggunakan body mist yang ringan instead of Eau de Parfum. Simply agar wanginya gak cloying/bikin eneg, sebab yang mencium parfum kalian nantinya bukan hanya hidung kalian aja, kan?

Setelah introduction yang cukup panjang tadi (hehe) mari masuk ke review parfum pertama di blogku ini. As you can read on the title, aku mau coba angkat parfum lokal dengan brand HMNS, yang dibaca humans. HMNS ini punya cukup banyak koleksi sebenarnya, tapi ada dua yang paling aku suka. One of them is their best-selling ORGASM. Yep, namanya orgasm. Untuk penamaannya aku kurang paham kenapa mereka pilih itu, sila cek postingan instagram mereka aja deh, tapi yang jelas Orgasm ini merupakan best-seller dari HMNS Perfumery. Reviewnya sendiri sebenarnya cukup beragam dan sudah wara-wiri di aplikasi kesayangan kalian, but here is my point of view:



PACKAGING

Secara packaging, HMNS ini punya jenis kemasan yang mirip mirip untuk semua variannya. Parfumnya datang dengan boks yang keras dan kokoh, lalu disegel dengan customized seal tape untuk menjaga kualitas di dalamnya. Cara buka boksnya cukup dengan menggeser isinya, sama seperti membuka sebuah laci lemari dan di dalamnya terdapat busa padat yang berfungsi menjaga botol parfumnya agar tidak pecah maupun bergeser sepanjang pengiriman. Di dalamnya juga diselipkan warranty card dan juga voucher Rp25.000,- untuk pembelian berikutnya. Cukup tandatangani vouchernya lalu klaim lewat WhatsApp ke Customer Service-nya.

★★★★★ 5 out of 5


THE PRODUCT

Produknya sendiri berisi 100mL, dikemas dalam botol kotak dengan desain stiker yang minimalis. Buatku, hal ini yang bikin 'prestige' karena kemasannya gak huru-hara gak jelas gitu. Neat, simple, chic, MEVVAH. Untuk 100mL harganya dibanderol Rp313.000,- which is a good deal! Mungkin terkesan mahal, but allow me to explain further. Tunggu sampai bawah, ya :)) Oke, lanjut, botolnya sendiri sangat enak digenggam tapi agak PR kalau lagi bawa tas kecil (especially for girls) karena dia cukup bulky dan berat.

Oh iya, meskipun parfum ini diberi label Gen XX alias feminim, boys can wear it too! Remember that fragrance has no rules. Prinsipnya: kamu suka, hajar bleh.

Dilansir dari akun instagram HMNS, Orgasm ini punya beberapa notes yang terdiri dari


Top Notes: Red Apple

Heart Notes: Rose, Jasmine, Peony

Base Notes: Amber, Vanilla Beans (natural)


Buatku, saat pertama disemprot wangi red apple-nya sangat dominan. Wanginya DUARRR apel. Seger gitu, tapi hanya bertahan selama beberapa menit saja sebelum berpindah ke wangi floral. Dan di hidungku, wangi floral paling dominannya adalah Peony campur Jasmine, walau sejujurnya meski masih fase heart notes, si wangi Vanilla-nya sudah memaksa keluar. And yes, you can guess correctly, wangi vanilla beans yang manisnya akan menjadi the last man standing dan yang menempel di tubuh kamu.

Please note, bahwa meskipun wangi vanillanya cukup strong, tapi Orgasm ini sedikit berbeda dari Vanilla pada umumnya. Dia ini tipe wangi Vanilla yang seger (karena ada campuran bunga dan buah apel-nya tadi, kali ya?) dan surprisingly nggak bikin eneg sama sekali. Perfect untuk siang maupun malam hari.

★★★★★ 5 stars out of 5



WEAR TEST

Sebelum akhirnya menulis review ini, aku sudah habiskan dua botol (yes, seriously) dan nggak jarang ketika aku pakai parfum ini, orang nanya "kamu pakai parfum apa?" karena rupanya, wangi HMNS Orgasm ini masih nggak begitu pasaran jadi mengundang orang untuk noleh dan nanya, at least seenggaknya mereka notice meskipun nggak terang terangan ngasih pujian. This means projectionnya cukup baik, khususnya di kulitku. Untuk sillage (jejak wangi) sepertinya juga cukup baik, soalnya kata temanku kalo aku lewat masih ada wangi floral-vanilla meskipun samar samar.

Parfumnya sendiri, tahan sekitar 5-6 jam untuk aktivitas indoor dan di rumah saja. Kalau outdoor sekitar 3 jam sudah agak memudar. For me, it's not that bad. Bahkan parfum YSL Black Opiumku saja punya performa di bawah ini, dengan range harga lima sampai enam kali lipat.

Untuk Rp313.000,- parfum ini bener-bener worth to try, sih. Terlebih melihat kualitas packaging, cairan parfumnya, longevity-nya, kenyamanan pakainya bahkan performa Customer Service-nya yang the best diluar nalar umat manusia :)) Sungguh 300ribu+ adalah harga yang ideal. Mahasiswa bisa pakai, pekerja bisa pakai, siapapun bisa pakai.

★★★★★ 4.5 out of 5 (gak ada emoji bintang separo, maap)

Parfum ini bisa kalian dapatkan di e-commerce kecintaan kalian (Shopee atau Tokopedia). Pilih aja yang mana yang banyak vouchernya :))

Sebagai penutup, aku cuma mau bilang lagi bahwa urusan parfum ini masih tetap menjadi sesuatu yang personal, ya. There is no right or wrong. What works on my skin belum tentu sama di kulitmu. Jadi, satu satunya cara untuk menentukan kamu suka atau tidak adalah dengan mencobanya. Kalau ragu beli yang full size, coba cari yang jual decant-nya. Jadi kalian bisa endus-endus dulu. But overall, HMNS Orgasm is a yes for me.

Wait for me to review the next variant, Essence of the Sun.. Ciao!

Read More

2 Comments

In skin care

Envygreen Dead Skin Cell Remover: Chemical Exfoliator Lokal Kualitas Interlokal


Envygreen Dead Skin Cell Remover

Selamat datang, 2020!

Wait~ sudah masuk bulan kelima dan rasanya kurang pas untuk bilang selamat datang tahun baru😜
Tetapi, terima kasih telah setia menunggu.

Setahun sudah kutinggalkan dunia tulis-menulis. A lot has happened. Yang terpenting, hari ini aku putuskan untuk kembali mengisi tulisan di blog-ku yang random ini. Niat awalku adalah banyak mengisi section lifestyle, karena section health and skin care sudah cukup banyak kuisi. Sayangnya, pandemi yang terjadi belum memberiku izin untuk mengeksplor sudut kota dan mengisi ruang lifestyle. Tak apa, masih akan ada banyak waktu setelah pandemi berakhir.

Beberapa bulan belakangan ini, kurasakan kulitku sedang bersahabat. Pasalnya, tidak ada masalah berarti selain satu-dua jerawat yang muncul karena ketidakseimbangan hormon; which is normal. Aku tidak mau ambil resiko dengan mengubah rutinitas skin care sembarangan, karena untuk mencapai titik ini tidak mudah :’)

Itulah kenapa, sudah cukup lama tidak ada tulisan baru yang muncul. Karena belum ada produk baru yang sempat kucoba. Beruntung, kemarin aku dikirimkan sebuah produk untuk kucoba. Sayang sekali kalau kucoba begitu saja tanpa berbagi info seputar produknya, that’s why I decided to write down my journey with this product.

First off, aku mau ucapkan terima kasih banyak kepada Kak Lutfia (Instagram @lutfiaa_) dan Envygreen Indonesia yang memberi jalan aku untuk mencoba produk ini dengan percuma. Sending you guys virtual hugs!

As you can read on the title, produk yang kuterima adalah produk milik Envygreen yang sudah cukup terkenal, yaitu dead skin cell remover-nya. Jauh-jauh hari sebelum produknya tiba, aku sudah mulai lakukan research terhadap produk yang akan kuterima. Tujuannya, jelas supaya tidak salah dalam mengambil langkah dalam penggunaan produknya in real life.

Banyak situs yang kuselami untuk mengenal produk ini lebih jauh, dan sejauh mata memandang review pengguna terhadap produk ini cukup baik. Bisa diukur dalam skala kepuasan 4.5/5.0. Eits, tapi ini belum termasuk penilaian pribadiku, ya! Hihi 😆



Produknya sendiri sangat simple, mungil dan compact. Isinya 10 gram. Sedikit? Ya, kalian berpikiran sama sepertiku. Berat bersih produk ini sangat jauh jika dibandingkan dengan dead skin cell remover yang biasa kupakai, St. Ives, dengan berat bersih 170 gram. Awalnya kupikir aku dikirimi produk sample, ternyata saat aku cek website Envygreen, kebanyakan produk Envygreen memiliki bobot yang ringan—berkisar antara 5 gram hingga 100 gram. Kisaran harga yang ditawarkan pun beraneka ragam, mulai dari Rp19.000,- per item hingga ratusan ribu rupiah untuk bundling pack. Jika dihitung per gram dan dibandingkan dengan skin care serupa yang dijual bebas di supermarket, harga yang dibanderol tidaklah murah. Tergolong pada tingkat menengah. Sudah selayaknya produk ini memberi kualitas yang diatas rata-rata.

Untuk dead skin cell removernya, dibanderol dengan harga Rp32.000,- per 10 gram. Terhitung cukup mahal jika dibandingkan dengan St. Ives yang dibanderol Rp69.000,- per 170 gram.

Produk ini merupakan chemical exfoliator, yang berarti berfungsi untuk mengeliminasi sel kulit mati secara kimiawi—kulit mati akan terangkat dengan proses kimia, bukan karena digosok secara fisik. Kalau pada umumnya exfoliator adalah produk (krim, cairan, padatan) dengan tekstur kasar yang digosok dengan gerakan memutar pada kulit untuk meluruhkan kulit mati, dengan tujuan menggerus sel kulit mati pada kulit, chemical exfoliator bekerja meresap ke dalam lapisan kulit mati dan merontokkannya dari dalam sehingga mampu meminimalisir pergesekan kulit yang berlebihan yang bisa mengakibatkan iritasi. Pada kasus ekstrem, eksfoliator yang terlalu kasar bisa melukai kulit. Itulah kenapa chemical exfoliator ini lebih bersahabat pada beberapa jenis kulit tertentu.
Kalau boleh jujur, ini akan menjadi pengalaman pertama saya untuk menggunakan chemical exfoliator. Sudah hampir dua tahun saya lebih memilih menggunakan exfoliator yang berupa scrub. Alasannya? Lebih berasa aja kalau kulitku sedang dieksfoliasi.

That’s why, ini juga akan jadi tulisan yang—tidak hanya review, tapi juga sekalian first impression.
Pertama dituangkan di punggung tangan, hal pertama yang kulakukan adalah mencium baunya. Rupanya produk ini memiliki wangi yang menyegarkan. Walau begitu, wangi yang dihasilkan tidak mengganggu sama sekali—dan mudah-mudahan tidak berimbas pada kulit (beberapa orang tidak dapat mentolerir wewangian, biasanya mereka dengan alergi).

Tekstur produk pertama kali dikeluarkan isinya


Menurut instruksi pemakaian, pemakai harus mencuci wajah dengan sabun (jangan lupa bersihkan juga make up-mu—jika menggunakan riasan) dan menggunakan hydrating toner; atau memastikan kulit dalam keadaan lembap—bukan basah. Oke, kuikuti sarannya~

Produknya sendiri memiliki tekstur krim yang tidak pekat dan agak cair. Bisa kubilang mirip tekstur pelembap gel cream milik Pixy (in case you wonder). Saat dibaurkan, tidak meninggalkan residu dan tidak cepat kering. Semakin lama diusap, akan menghasilkan tekstur seperti remah remah hapusan pada penghapus karet; tandanya, produknya hampir selesai bertugas dan klaim produknya adalah turut membawa serta sel kulit mati pada tahap ini. Jika sudah dirasa kering dan tidak ada gumpalan saat mengusap kulit, pengguna bisa membilas produknya dengan air (tidak perlu menggunakan sabun—tadi kan sudah). Ingat, ya, diusap aja. Nggak perlu digosok keras keras.

Seperti gel cream

Setelah membilas, perubahannya langsung terasa saat itu juga (bukan, bukan karena saya diberi produknya cuma-cuma). Seperti habis menggunakan exfoliator pada umumnya, kulitmu akan terasa lebih halus dan lembut saat selesai membilas produk. Yang membedakan, setelah dibilas kulitmu akan terasa bersih dan lembut saja. Jika kamu pengguna physical exfoliator, kamu akan segera paham bahwa setelah meng-eksfoliasi kulitmu akan terasa lebih kering, kencang dan seperti ditarik—nah, setelah pakai ini tidak ada perasaan ditarik tersebut.

Sesaat setelah dibaurkan

This is also why I am able to write down the result shortly after I receive the product, karena hasilnya tidak seperti krim dan/atau serum yang mesti berminggu-minggu dipakai. Aku pun sengaja tidak meng-eksfoliasi kulit selama seminggu belakangan untuk merasakan hasil dari Envygreen Dead Skin Cell Remover ini 😜

Sel kulit mati yang terangkat (klaimnya)

Oh ya, ada satu hal yang hampir lupa kusertakan. Mungkin terdengar klise bagi para skincare junkies, tapi barangkali ada pembaca yang belum terinformasi: Jangan pernah gunakan exfoliator lebih dari dua kali dalam satu minggu. Gunakan sesuai jenis kulit dan banyaknya aktifitas yang memengaruhi regenerasi kulit. Kulitmu—percaya atau tidak, butuh waktu untuk beregenerasi. Berikan kesempatan untuk kulitmu sembuh secara alami, skin care mu hanya penunjang kesehatan kulitmu.

Overall, setelah seharian aku tidak merasakan ada rasa gatal, iritasi maupun kemerahan setelah menggunakan produk ini. Berarti, aku sudah boleh mengunggah tulisanku ini dan dibagikan pada pembaca. Kalau nanti ada reaksi tiba-tiba, pasti kuedit tulisan ini dan menulisnya secara jujur karena aku pun sama seperti kalian, aku hanya konsumen yang tidak menerima rupiah dari penulisan review produk. HEHEHE

FINAL THOUGHT
Hasil 9.00 / 10.00
Harga 8.00 / 10.00
Re-purchase? Kita lihat setelah habis 😉


Dan terima kasih, buatmu yang sudah berhasil baca sampai paragraf ini. Jaga kesehatanmu, jangan lupa Bahagia dan ciptakan pikiran positif pada masa seperti ini. Anggap saja ini bonus dari pemerintah untukmu merawat kulit yang bebas dari polusi 😉 beres pandemi, kita bertemu, ya!

Thank you 💕

Read More

0 Comments

In Bandung Places

Ambrogio Pattiserie: A One-stop Dining Option



Hola todos! It’s been a long time, right?
I think I can see a pattern here; I now start to write something down only once in several months. I don’t know, it’s kind of difficult to set the writing mood up. Anyway, I happen to plan to write about this place for quite some times but you know I’m not that write-y guy. I really am only getting the writing mood last night, hahaha 😆


The very first time I came to this place was several months ago. I have been putting this place up on my bookmark, but only have the opportunity months later. When I paid a visit to this place, I was so overwhelmed that I decided to come back the second and third time during my birthday dinner on July, and a friend’s birthday dinner exactly a week after mine. This place is THAT good.


I knew this place from my acquaintance’s InstaStory. I thought “why not? this place seems cool” and put it right on my bookmark. From the total of three visits so far, I have not found anything off the scoring system. All three visits were at the same amount of good. I think it’s better to write just the summary and my overall impression of my visit.

Ambrogio Pattiserie
The place is named Ambrogio Pattiserie. It is located at Jalan Banda, Bandung. Exactly by the Saparua Jogging Track. It is not that difficult to find your way here. The place is located in a very strategic place, amidst the busy life of the city, and it has quite huge name on its front building. So, don't you worry about finding this place.

Though specializing at pastries, they serve a lot of foods and beverages. The range was so good. They have lots of Western dishes as well as Local dishes. Thumbs up. Unfortunately, in my personal thought the price range is a bit high for students. Though, I have to admit the taste of the dishes was worth the price.

As it is named, you can find various pastries as well (it is their specialty after all). I strongly suggest you to order their Creamy Mango cake. Well, why don’t we start the review by this food? Okay, the cake is what I liked the most from ALL the things I have tried and ordered. It was half-round, colored bright yellow, smoothly glazed (go find such thing on their display). It costs you Rp35.000,- per piece. Not a cheap one, but not that expensive. The taste, though, it was HEAVENLY. The crust, the crumbs, the creamy part (I believe it was cream cheese), the mango bits, the glaze, they did compliment each other. The sweet, sour taste is so refreshing that I demand for more. Definitely the first thing I order when coming back in the future!



Along with the Mango, comes its friend. The CHOCOLATE RASPBERRY cake. I seriously was in food heaven. The mango was so good, and so does the chocolate. One thing I noticed is that now you can find a cake this good in many places, you name it: the Harvest cakes, Exquise Pattiserie, so on, so forth. Nothing signature, but STILL SO GOOD.

I honestly got these two cakes as a birthday surprise from friends of mine. They really ain't that creative at arranging a surprise LMAO, I was at the place and they surprised me with cakes on the menu HAHAHA. I'm still grateful!!! I love them no matter what, it is the thought that counts 😜😜😜


Still coming from the dessert clan, I tried their smoothies bowl. It costs Rp50.000,- per bowl, or semi-bowl? How do I describe? The serving container was a cup in some way, but bigger. It was also a bowl, but smaller. Any way, it was good, but honestly the fruit juice a.k.a. the base, the soup, or whatever you name it, was a little too sweet for me. They should have just blended plain fruits. No sugars needed. They still have a long way to go before taking the spot of Sejiwa’s Smoothies Bowl as my favorite smoothies bowl in town (will write one soon but I want to come back first and order more).


Up next is their drinks. I personally love their Blueberry Lavender that I ordered them twice out of three times coming here. It was so good. There was a hint of flower kind-of taste. The drink was not overly sweet as well. Just the right amount of sweet. It costs you Rp35.000,-


The other drinks I have tried here is their Caramel Macchiato. The coffee was so basic that I dare to say I can get better in other place. Don’t get me wrong, though, it tastes good. Coffee is just not Ambrogio’s specialty. The price was Rp30.000,-
P.S. I didn't snap any pictures of the coffee. It is straight brown, and I was not the fan of the presentation.

Moving on to the foods, the first thing on my list is their Salmon en Croute. It was salmon, fine-chopped, wrapped in a puff pastry. SOOO GEWD. It costs you Rp58.000,- Also, the portion was so generous! I had a full tummy by one plate. For real! The salmon was a little overcooked FOR MY BELLY, because I prefer salmon not to be fully cooked.
P.P.S. So sorry for not taking pictures of this food as well, it was so good I forgot to take pictures :(


The next one is their Chicken Parmigiana. It was good, but a little basic since I can find the same menu with similar taste as their Chicken Parmigiana. In other words, it was good but there’s no such thing as a signature touch. You can get one full plate for Rp65.000,-



The last one is the Chicken Cordon Bleu. It costs you Rp.60.000,- and again, I must say their cordon bleu was a little basic. But good. No you won’t regret buying it but you can find similar taste in other cafes under the same name.

Remember, all the prices I stated above was the price during my visit in 2019. Might change a bit. Tax and service excluded (15%)




Now talking about my favorite part, the service. This is very vital. I determine whether or not I will come back by the services. I don’t care if their foods are the best in the world, if the service is crappy then goodbye, I’m not coming back.
Fortunately, I had good experiences with the services. They were all good, well-trained, fast-respond and giving every detail clearly. 9.5 out of 10!


Decorations and stuffs, I don’t have to talk about this. Go browse ‘Ambrogio Pattiserie’ on Google and Instagram, click their tag section an voila, you will find thousands of pictures of their interiors, exteriors, food pictures and so on. Not to mention the InstaStories. Go browse now, you will understand.

Overall, this place is my new favorite place to eat and hang out. Will come back in the near future, I swear!

Thank you for reading! Here's some additional pictures I snapped for you~




Read More

0 Comments

In Bandung Places

KAMA Eatery, A Tiny Bit of Joy Amidst the City Life



Hi ya, it’s been a while since the last time I get to write my food & lifestyle section. I think I just found the right place to write –and of course, to review! That’s what I do all the time LMAO.

Usually, I’ll get to hang out and try new places to chill, enjoy some coffee, enjoy some foods, or maybe some company. The moment I leave the place is the time I decided whether or not I should write this up on blog. I religiously write my review on Zomato app but if there’s something special in it (bad or good) I’ll write them up on blog.

I found this place by accident; it was one time I get back home from Balai Bahasa Jawa Barat and decided to alter the route to Jalan Manado to avoid huge traffic. While passing the crossroad at Jalan Sumbawa, I saw this all-white interior with a huge “KAMA” board on its wall. Found out that it was an eatery so I browsed them up on Instagram. The search resulted a delightful result, I read some pretty good sayings about this place so I decided to come the next week.

The very first problem I encountered coming here was finding the place to park my bike. They don’t have the space to park your bike/car so you have to park them in the nearby building a.k.a. numpang parkir or just put them in this tiny spot under the tree, right in front of the place. Okay, one problem solved.



The moment I entered the place, I was soo overwhelmed with joy. The place is so homey and comfortable, despite of being not-so-spacious. There are three seating options; the semi-outdoor, where you can chill and smoke, the indoor, where you can be seated under the breeze of the air conditioner, and the bar-seating, you know the ones with high stools and you can see right through their bar.

At the time I was there, the place was a bit packed but I was lucky enough to be seated under the exposure of the AC. It was freaking hot outside! (P.s. It’s kind of summer here). Oh, by the way this ain’t the place where the waiter comes to you showing where to sit and provide you the menu. You do it yourself. You come find your seat, grab the menu and straight order and pay at the cashier. I think this kind of method is pretty smart considering their place is not that big, so the employees can multitask.

Talking about service; this point is crucial for myself personally. Service determines whether or not the customers want to go back there. This is the highest point I see at EVERY place. I don’t care if the food is the best in the world but if the workers don’t treat the customers well, then I’m not coming back. KAMA provides an EXCELLENT service. They treat their customers well. I had a really good time here I must say.

From the point I sit


Now, let’s get to the food.

The menu is a bit standard; you can find all the similar names at other places but that’s completely okay, I don’t see a problem here. My suggestion is that they should probably add one or two signature dishes to make them even more stand out (they probably have one by now, I don’t know).

The range of the price is quite reachable –they are not that expensive, but they aren’t cheap as well. The price of the dishes starts at Rp45.000 – Rp100.000 (Probably slight less), tax included. They also provide Light Meals, non-coffee and –of course the coffee for NO MORE than Rp50.000 each.


The Chicken Cordon Bleu


During my visit, I ordered
Chicken Cordon Bleu (Rp55.000). The chicken is well-cooked. Tastes soooo gewd. They are served with cooked vegetables (I don’t know how they treated the veggies, but the point is they were not raw), Fried diced potatoes (I prefer them mashed, but okay) and mushroom sauce (served with real mushroom inside, I liked them). Overall, nothing is overlapping the other. They complimented each other well.

Iced Caramel Macchiato

and an Iced Caramel Macchiato (Rp35.000), I liked this beverage since you can still taste the bitterness of the coffee. Most places serve a stronger caramel and/or the other condiments rather than the coffee.

Overall, both deserved their price and the taste. I would NOT say this is overpriced. This is just okay.
I believe it would be even excellent if in the future they would provide us some pastry box –to choose sweet foods or at least providing them at the menu. I think that would be perfect.

I would say this is an excellent place to eat, to chill, to hang out with your friends, but a big NO for bigger group. This is perfect to curl up on your own, or having small talks with smaller circle. The food and the ambiance support each other very well, complimented by a great service.

I would totally come back in the future!

P.S. Check out my other pictures at KAMA down here!
P.P.S. Sorry about the quality, still on the learn to upgrade the picture quality. On my way towards betterment, though!







Read More

0 Comments

In skin care

Freeman Beauty: Five-star Quality in a five-dollar product



¡Hola, todos!

Setelah lama tandus, akhirnya blog ini kembali terisi! Sorry for that. Anyway, selama vakum menulis aku menemukan banyak produk baru, yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Some are ‘ew, no’ and some other become my holy grail.

Salah satu produk yang masuk kategori holy grail-ku akan kubahas sekarang. Ini produk sudah melegenda, sudah ada sejak 1976. Memang aku aja yang kampungan, baru nemu sekarang :’)

Technically, ini bukan barang yang baru ditemukan gitu aja. Aku sudah mengincar barang ini sejak 2015 silam. Sayang, saat itu produk ini teramat sangat sulit ditemukan di Indonesia (offline). Terakhir kutemukan di Targét, saat aku kuliah di Melbourne 2016 lalu. Kalau kamu pembaca lama di blog-ku, kamu pasti tahu seberapa bencinya aku belanja online. Aku bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan uang, lalu menunggu demi sebuah barang. Aku lebih suka barangnya langsung kupegang saat itu juga. Aku juga lebih suka belanja di official store ketimbang di toko-toko sembarangan yang random gitu aja. Walau harganya lebih mahal sedikit, tapi tokonya resmi. Jadi, kalau mereka sampai jual barang palsu, bisa dipidana :D Lebih aman aja, gitu.

Dan karena alasan itulah, aku baru memutuskan istiqomah (aw) pakai produk ini, setelah tahu ada distributor resminya di Indonesia.

Produk yang kumaksud (yakin banget, nih, udah pada kenal) adalah FREEMAN MASK. IYA! Masker keluaran Freeman Beauty ini sudah ada distributor RESMI-nya di Indonesia. HUZZAH! 
Produk ini asli dari negeri KFC, Amerika (tulisannya made in USA soalnya, hahaha) dan kabarnya 
udah ribuan orang jatuh hati sama merek ini. Buktinya, kalau kalian googling “freeman beauty” maka yang keluar biasanya kata kata macem “cheap mask that makes you glow”, “skin savers under $10” dan sejenisnya, yang mengindikasikan bahwa produk ini murah tapi kualitasnya jempolan. Hal itu juga yang bikin seorang Billy penasaran sejak 2015.

Di Indonesia, importir dan distributor produk-produk Freeman adalah NEWAGE S/B (ngga tahu itu apaan, hahaha) dan sudah bisa kalian temukan di drugstore maupun swalayan. Aku sendiri nemu Freeman ini di toserba Yogya Riaujunction, Bandung dengan harga Rp125.000,- per tube, untuk SEMUA varian di rangkaian ‘feeling beautiful’. Jadi, mau pilih varian apapun, harganya sama, Rp125.000,-. Isinya pun banyak banget, 175 mL.

Freeman sendiri, makin kesini makin banyak variannya. Tapi tetep, yang paling best-sellingnya di rangkaian feeling beautiful. Mungkin karena khasiatnya udah melegenda (?). Variannya ada BANYAK! Jenis maskernya sendiri ada macem-macem, ada mud mask, clay mask, overnight mask, peel-off mask dsb. Aku sampe jongkok setengah jam, literally, buat memilih masker mana yang bakal kubeli (ya, maklum dompetnya terbatas. Maunya, sih, beli semua satu-satu).

Setelah semedi dan komat kamit sana sini, kuputuskan untuk membeli tiga varian dengan pertimbangan isi dompet dan kebutuhan kulitku. Itu pun sudah off-budget, karena target saya hanya mencoba satu tube hahahaha.

Saat itu, kulitku sedang breakout super parah dan beruntusan sana-sini. Tiga varian yang kubeli adalah Freeman Detoxifying Charcoal + Black Sugar Mud Mask, Freeman Cleansing Apple Cider Vinegar Clay Mask + Scrub, dan Freeman Hydrating Honeydew + Chamomile Overnight Cream Mask.
Mari kita terjun dan mengupas kegunaan maskernya satu persatu :P

Freeman Detoxifying Charcoal + Black Sugar Mud Mask


Kalau kamu suka nonton YouTube-nya Female Daily Network, pasti tahu bahwa masker ini sempat dibahas oleh kak Affi Assegaf di segmen Skincare 101. Bahkan, beliau lebih memilih masker ini ketimbang masker milik The Body Shop yang harganya hamper 3x lipat! Dari video itu juga, saya ingin mencoba masker ini. Ini masker tipe mud mask, dan klaim-nya akan membantu men-detoks kulitmu. Jelas kuambil karena saat itu kulitku sedang butuh detoxifier :’)

Klaim maskernya sendiri adalah to moisturize, re-mineralize, and make skin sensationally soft! Oke, berani juga ini masker klaim begitu. Ini adalah masker pertama yang kucoba.

Saat dikeluarkan, sedikit agak sulit. Cairannya seperti lumpur (yaiyalah mud mask) dan berwarna abu abu super pekat. Saat diaplikasikan, aku qaget! Biasanya mud mask begini akan sedikit kasar, tapi yang ini super duper halus dan glides on smoothly aja, gitu. Bener-bener kaya mentega, teksturnya halus dan nggak ada ‘grinjel-grinjelnya’. Maskernya wangi, kayanya sedikit flowery. Ini juga bikin kaget, biasanya masker yang charcoal begini bau baunya kaya tanah campur pasir gitu. Paham, kan? Hahaha, ya begitu, tapi ini enggak! Wangi banget.

Pas dipakai, sensasi ketariknya kerasa tapi nggak ganggu. Masih dalam batas wajar. Dan masalah utamanya ada saat proses bilas, susah coy! Hahahaha. Maskernya nempel di kulit, dan sedikit butuh waktu untuk membilasnya, tapi setelah pemakaian kedua aku paham cara membilas masker ini lebih cepat. Triknya, saat masker sudah kering (ngga masalah pemakaiannya tebal ataupun tipis) kamu basahi muka dengan air agak banyak, dan usap pelan pelan dengan tangan. Setelah sekitar 10 detik atau masker berubah menjadi lembek, bantu hilangkan maskernya dengan lap handuk kecil. Trust me, waktu bilasnya akan jauh lebih cepat dan lebih bersih ketimbang dibilas pakai air dan tangan saja.

Hasilnya, wajah beneran (sumpah, ngga bohong) kerasa lebih bersih. Rasanya itu persis kaya kita habis cuci piring super kotor, yang beresnya bersih + wangi terus keset. Gitu, lho. Gimana ya jelasinnya, intinya dia enak banget dan wajah bener bener kerasa bersihan. Pertamanya, kupikir itu hanya sugesti karena aku excited sama masker ini. Lalu, kucoba aplikasikan masker ini ke temenku yang ngga paham skin care. Reaksinya persis reaksiku :’) kata dia, mukanya jadi lebih keset, dan kerasa banget bersihnya. Beda dengan muka yang hanya dibersihkan pake facial foam. Se-seneng itu, karena maskernya beneran bekerja! Masker ini rutin kupakai dua kali seminggu, tiap hari Senin dan Kamis.



Freeman Cleansing Apple Cider Vinegar Clay Mask + Scrub


Ini masker yang kucoba dua hari setelah pertama kali mencoba masker pertama. Alasan kubeli varian ini, simply karena varian ini menang Best of Beauty Award, Allure 2016. Ngga mungkin sampe menang award kalau maskernya biasa aja, dong? Masker ini –katanya multifungsi. Dia bisa jadi masker, tapi sekalian jadi scrub, tapi bisa juga dipakai jadi facial foam. Canggih, kan?
Klaimnya masker ini bisa dipakai untuk tone-up, menyerap minyak, membersihkan, dan menghaluskan. Karena judulnya bisa buat scrubbing, of course maskernya ini ada grinjel-grinjel halus. Wanginya, yaa ampun tolong enak bener. Kaya Sabun cuci tangan indomaret gitu, yang apel. Tapi, emang wanginya agak mencolok ketimbang yang mud mask tadi, tapi buatku amat sangat nggak ganggu.

Yang ini, ngga mau kupakai jadi facial foam (walaupun bisa). Sayang, Rp125.000, buatku mahal. Kalau tiap hari dipakai, awetnya Cuma sebulan :p

Maskernya sangat amat gampang disebar, teksturnya seperti odol. Ngga perlu kuas masker, pakai jari pun cukup. Se-gampang itu diaplikasikannya! Maskernya ngga boleh didiamkan lebih dari 10 menit, katanya. Tapi memang cepet banget keringnya, ngga sampe 10 menit sudah kering. Padahal aku pakai tebel-tebel.

Saat dibilas, ini lebih gampang larut ketimbang yang mud mask. Cuma, kalo yang ini aku nggak lap pakai handuk, karena masker ini menawarkan sensasi scrub. Jadi sambil kubilas maskernya, sambil ku scrub wajahku. Sambil menyelam minum air.

Hasilnya, wajahku lebih seger dan lebih halus! Memang dia ngga terlalu deep-cleanse seperti yang mud mask, tapi untuk membersihkan dan menghaluskan dia jago banget! Kali ini, aku bangga karena aku beli combo yang paten untuk kulitku :’) Mud mask + Clay mask = kulit yang bersih + halus, sumpah.



Freeman Hydrating Honeydew + Chamomile Overnight Cream Mask.


Nah, kalau yang ini adalah the lucky buy. Awalnya beli karena iseng, warnanya bagus. Ternyata, dia compliment kerja dua masker diatas! Nangis gak, lo?!

Masker ini jenisnya leave-on. Teksturnya gel cream, separo gel separo cream. Kaya conditioner, tapi lebih encer gitu. Hebatnya, doi ngga bikin greasy dan lengket :’) bangga akutu. Nyerapnya super cepet dan wanginya seger! Wangi melon, kaya susu melon indomilk!

Awalnya, aku perang batin mau pilih varian ini atau yang peony (yang warna biru+pink) tapi at the end kupilih yang ini, ngga tau kenapa.

Sesuai statement-ku diatas, masker ini compliment kedua masker yang kubeli. Kenapa? karena tiap habis pakai mud mask atau clay mask, wajahku jadi keset dan matte. Kalau kudiamkan gitu aja, bakal produksi minyak lebih banyak karena wajahku pun butuh kelembapan (aside of it producing excessive oil) jadi selalu kupakaikan masker ini setelah pakai salah satu masker diatas. Biasanya, kalau aku pakai masker ini, aku ngga akan pakai moisturizer lagi. Buat kulitku, Masker ini sendiri sudah lebih dari cukup untuk menghidrasi kulit. Teksturnya yang light juga sering jadi opsiku kalau beneran lagi buru buru pengen tidur. Biasanya kupakai Nature Republic Aloe Vera sebagai moisturizer, tapi karena butuh waktu hampir setengah jam biar menyerap kadang aku ganti pakai Freeman ini supaya bisa cepat tidur. Hasilnya sama persis dengan Nature Republic, saat bangun dan cuci muka pakai air (tanpa sabun) wajahku masih akan kerasa lembab dan alus.

Sejauh ini, ketiganya bener bener bagus banget untuk kulitku, terutama mereka sangat amat berperan besar mengatasi breakout-ku yang kemarin sedang parah parahnya.

Tekstur masing masing masker




Dua minggu aku hanya pakai Micellar water, facial foam, nature republic, dan tambahan ketiga freeman ini (selang-seling). Bahkan aku stop penggunaan sheet mask karena khawatir cairannya menyumbat pori-pori. Biasanya rangkaian skin careku cukup Panjang, tapi saat breakout kemarin fokusku hanya memastikan kulit bebas dari kotoran.

setelah masker dibaurkan


Hasilnya? Jerawat dan beruntusanku beneran mengering dalam dua minggu :’) sekarang aku sudah pakai skin care secara normal, rasio pemakaian freeman pun sudah tidak se-intens saat breakout.

No wonder people love Freeman mask soooo much, because they are freaking good! Buat dompetku mungkin tidak murah (tapi tidak mahal juga), tapi dipikir-pikir dengan hasil dan jumlah sebanyak itu rasanya worth the price! Rp125.000,- untuk 175mL is a huge deal! Apalagi hasilnya terpampang nyata menembus cakrawala merasuk ke dalam sanubari, jelas ini masuk kategori “harus istiqomah” milikku.

OVERALL RESULT(untuk ketiga produk) 


Harga: 9.10 / 10.00


Hasil di kulit: 9.75 / 10.00

Re-purchase? DAMN YES!


Mungkin kedepannya aku akan coba varian lain, ada beberapa yang sudah kuincar diantaranya varian Hydrating Glacier Water + Pink Peony, Purifying Avocado + Oatmeal Clay Mask dan Rejuvenating Cucumber + Pink Salt Clay Mask. Can’t wait! (Padahal yang tiga ini masih banyak banget, hahaha)

Thanks for stopping by! See you! 😁

Read More

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Laman